Aku Maya,
kini usiaku 36 tahun, bukan usia yang lagi muda. Mas andre suami yang begitu
menyayangiku. Diusianya yang 40 tahun dia tampak lebih gagah dengan jabatan
sebagai senior manager di perusahaan pertambangan terkemuka memberikan kami
kehidupan yang mapan. Apalagi, aku juga bekerja sebagai Marketing Manajer
sebuah Bank pemerintah. Namun kebahagiaan kami belum lengkap karena diusia
pernikahan yang ke 12 ini aku juga belum dikarunia seorang anak. Berbagai upaya
sudah kami lakukan, dari therapy ke dokter ahli sampai pengobatan alternative.
Kami sudah pasrah namun kekhawatiranku selalu ada. Apalagi ibu mertuaku selalu
menanyakan kehadiran cucunya. Maklum mas Andre anak laki satu-satunya dari 4
bersaudara yang semua wanita. Suamiku memang selalu menunjukkan rasa sayangnya.
Dia selalu membesarkan hatiku. “Suatu saat dik, Allah pasti memberi kita anak,
kita berdoa saja” katanya. Aku tersenyum namun rasa malu tidak bisa kuhindari,
apakah aku mandul, apakah aku tidak bisa memberikan keturunan. Aku takut
kehilangan masku. Aku tidak mau dihari tuaku hidup sendirian.
Kami
menjalani kehidupan seperti hari-hari biasanya. Sampai suatu saat dihari minggu
ketika kami baru saja berolahraga datang sahabatku Ria yang tampak begitu tergesa-gesa.
Ada seorang bayi mungil digendongannya mungkin usianya baru satu minggu. “May,
aku minta tolong ya, kamu sahabatku tolong jaga anak ini” kata Ria. Aku
terheran dan semakin bingung. “Kamu duduk dulu deh ceritakan pada kami”
tambahku. Ria pun mulai cerita, saat ini dia harus pergi karena keluarganya
kini telah mengusirnya akibat hubungan gelapnya dengan steve lelaki kelahiran
Kanada. Orang tua Ria keturunan darah biru yang sangat menjunjung tinggi
kehormatan keluarga. Ria harus pergi dan tujuannya hanya satu yaitu tempat
pacarnya kini berada. Yah dia harus terbang ke Kanada pagi ini. “Tolong jaga
dia May, aku tidak tahu harus kemana lagi. aku menyayanginya” kata Ria. “Suatu
saat aku akan kembali untuk dia May”, tambahnya. Aku menatap mas Andre diapun
tersenyum seolah bisa membaca fikiranku. “Baik Ria, aku akan jaga anak ini,
siapa namanya? Tanyaku, “Ananda Ferdiansyah, di akta kelahirannya aku tulis
begitu” jawab Ria. “Kapan kau kembali’” tanyaku lagi. “aku tidak tahu May,
Steve telah kembali terlebih dahulu ke Kanada karena masa tugasnya telah
berakhir dan dia harus kembali, jadi terpaksa aku berangkat sendirian. Oke ya
May, Pliss”, kataya memelas. Aku pun menganggukan kepala. Kembali Ria
sumringah, yah Ria sahabatku sejak SMP sampai SMA kami selalu bersama sampai
kuliah yang memisahkan kami. Aku kuliah di Jogja sedangkan Ria masih di
Jakarta. “May, ini baju nanda dan botol susunya”, Ria membuyarkan lamunanku.
Ria kembali berkata,“maaf may aku belum bisa kasih apa-apa ke nanda tapi pasti
aku ganti may”, kata Ria. Ria beralih memandang anaknya. “Nanda mama pergi dulu
yah”, Kata Ria kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang. Aku memahami
sekali, Ibu siapa yang tega melepas anak yang telah dikandung 9 bulan
diperutnya.
Kini
hari-hari ku tidak lagi sepi, Nanda telah melengkapi keinginanku memiliki anak.
Walaupun aku sadar dia bukan anak kandungku. Sudah tugasku menjaga anak dari
sahabatku walaupun aku juga meminta bantuan seorang baby sitter mbak Nie aku
memanggilnya. Secara rutin aku selalu monitor perkembangannya. Nanda memang
lucu sekali wajahnya perpaduan Padang dan kanada menjadikannya anak yang
rupawan, kulitnya yang putih kemerahan membuat aku gemas sekali. Setiap pagi
sebelum berangkat pasti aku peluk dan kuciumi. suamiku pun tak mau kalah,
rebutan untuk menggendongnya menjadi kesenangan kami tersendiri. Nanda memang
bagaikan malaikat dan cahaya bagi kami. Lambat laun kami semakin sayang. Dia
sudah seperti anak kami sendiri. Pertumbuhan nanda tidak terasa semakin
terlihat. Tubuhnya gemuk dan lucu, sehat sekali dia. Aku sekarang punya
kesibukan baru menjadi seorang ibu. Hampir tiap hari aku buka majalah untuk
melihat mode baju anak dan mainan keluaran baru. Rasanya bahagia sekali melihat
dia tersenyum sambil memperlihatkan baju atau mainan yang kubelikan.
Kesibukan
di kantor membuatku melupakan sejenak Nanda namun bila waktu menjelang berakhir
tak sabar aku ingin segera tiba dirumah. Yah setiap sore Nanda telah rapi. Di
atas kereta bayi bermain sambil makan sepiring cereal yang disuapi mbak Nie.
Nanda diusianya yang 6 bulan tampak semakin sehat. Nanda pasti tertawa kalau
klakson mobilku berbunyi perasaan suka cita terlihat jelas. Nanda tertawa
sambil mengajak mbaknya segera ke mobilku. Nanda sudah bisa memanggil mama, yah
aku kini mamanya. Setiap malam setelah kami bermain Nanda akan tertidur pulas,
aku dan mas Andre selalu memandangnya dengan penuh kasih sayang. Hingga akupun
tertidur pulas di sampingnya.
Waktu
terus berlalu tanpa terasa kini 5 tahun sudah Nanda bersama kami. Nanda kini
telah masuk sekolah TK. Tubuhnya lebih besar dibandingkan teman sebaya. Nanda
juga cerdas sekali. Setiap hari sebelum kami berangkat kerja Nanda sudah bangun
bahkan membangunkan kami untuk sholat shubuh bersama. Nanda memang sekolah di
TKIT As salam dekat komplek rumah kami. Setelah mandi sambil sarapan kami
selalu bercanda. Selalu saja nanda bertingkah polah lucu yang membuat kami
tertawa. “Mama sayang ngak sama Nanda” Tanya Nanda, aku pun tersenyum. Loh kok
Nanda Tanya begitu” kataku. “Ngak Cuma mau nanya ajah”.katanya. Sini mama
peluk” Nanda pun memelukku dengan eratnya mas Andre pun tersenyum melihat kami.
Suatu hari
ketika baru saja aku pulang, mbak Nie bilang kalau tadi ada tamu. Namanya Ria
dia ingin bertemu Nanda. Deg! hatiku pun berdegup kencang, yah Ria, Ibu kandung
nanda sudah datang, apakah dia datang untuk mengambil anaknya?. Aku semalaman
tak bisa tidur, aku takut kehilangan Nanda. 5 tahun cukup sudah membuat ikatan
batin kami. Walau nanda bukan anakku tapi aku yang merawatnya dan menyaksikan
perkembangannya detik demi detik.
Esoknya
Ria datang disampingnya ada seorang pria bule. Ditanganya ada mobil remote
control, “pasti untuk nanda”, fikirku. “Maya!” kata Ria memecahkan lamunanku.
“Bagaimana nanda?” Tanyanya lagi. “Oh ya, sehat-sehat dia”, jawabku gugup. Dia
sedang tidur jangan diganggu dulu. “Aku ingin melihatnya”, kata Ria. “Yah,
sebentar lagi pasti dia bangun”, kataku. Belum lagi aku menutup mulutku aku
mendengar suara nanda memanggil, “mama… mama.. itu mama yah? Sudah pulang ya
ma?”, suara lembut Nanda yang sering terucap kini terasa berbeda. “Ya sayang
sini deh!” sahutku. Nanda keluar dari kamarnya. Sambil mengucap-ucap matanya
yang masih sipit karena tidurnya. “Nanda sini deh”, kata suamiku, aku hanya
diam dan menunduk. Berjuta gejolak dibatinku. Aku tak kuat menerima ini terlalu
cepat. Tapi aku juga tak boleh egois. “Nanda!,” kataku, “ini Mama Ria dan Papa
steve”, aku membiasakan memanggil itu. “Nanda,” kata Ria. “Sini deh!, mama Ria
punya mainan buat kamu”. Nanda bukan menghampiri malah berlari kebelakangku.
“Ngak mau!” . katanya. “Yah!, mungkin belum terbiasa ri”, kataku, nanda malah
mengajakku nonton TV. Sambil matanya menatap tajam Ria dan Steve. Aku tau dia
ingin menghindar darinya. Akupun menuntun ke ruang keluarga dan mulai menyalakan
televisi aku terdiam fikiranku menerawang entah kemana.
Malam kini
telah larut Ria dan Steve sudah kembali setelah berjanji besok akan kembali
lagi. Nanda telah tertidur. Aku tak kuasa tangis menatap wajahnya. Yah wajah
yang setiap hari aku pandangi. Aku memeluk erat suamiku, aku berbisik takut
nanda bangun, “Aku tak ingin kehilangan dia mas, Aku rela kehilang segalanya
mas asal dia masih bersamaku”. Suamikupun bisa memahaminya dia hanya memelukku
erat. Aku tahu pasti perasaan mas Andre tidak berbeda denganku. Hari ini aku
sengaja cuti begitu pula suamiku. Aku takut Nanda diambil paksa oleh Ibunya.
Tak lama kemudian Ria dan Steve tiba dirumah sesuai yang dijanjikannya di
tangannya masih masih memegang mobil remote yang belum sempat diberikan ke
Nanda. “May boleh aku bicara dengannya”, Tanyanya. “Yah.. yah.. boleh boleh
donk kamu kan mamanya”, jawabku gugup. “Nanda sini deh!”, panggilku nanda pun
menghampiri. “Kamu beri salam mama Ria dan papa Steve”. Nanda pun memberi salam
dan mengecup tangannya. “Nanda“, sapa Ria. “Mama Ria ingin bicara boleh?”
Nandapun hanya terdiam. “Kami ini adalah orang tuamu, mama dan papamu”, Nanda
memandang kami seolah meminta kepastian. Aku hanya tertunduk, Ria pun
meneruskan kalimatnya. “Mama ria menitipkan kamu ke mama Maya dan sekarang kita
telah bersama, kami akan mengajak kamu tinggal bersama di kanada, oke”. Bagai
petir menyambar jantungku mendengar kata-kata Ria. Yah berarti aku harus
bebar-benar berpisah dengannya. Nanda menjerit sambil teriak, “Tidak mau!!..
tidak mau!!.. nanda ingin sama mama, Nanda tidak mau pergi”,. Aku memeluknya
erat untuk menenangkan Nanda. Ria kembali terdiam. Ria faham ini sangat berat
bagi Nanda tapi Ria sudah bertekad untuk mengajak nanda walau aku telah
memohonnya untuk tidak membawa nanda tapi Ria bersikeras “dia Anakku May!,
setiap malam aku memimpikan dia, aku harus membawanya. Terima kasih kamu telah
merawatnya, aku telah siapkan uang pengganti kau bisa menerima uang ini”, kata
ria dengan memelas. Aku menepisnya, “bagiku uang tidak seberapa Ria, tapi yang
mahal adalah kasih sayang kami itu yang tidak bisa kamu beli”, kataku. “Tapi
aku harus membawanya may, bagaimanapun caranya”, Ria menutup teleponnya.
Aku pun
berdiskusi dengan suami, yah aku harus melepasnya dan membiarkan orang tua
kandungnya merawatnya. Aku memanggil nanda dan mencoba untuk memberikan
pengertian walau berat aku berkata. Tanpa terasa air mataku jatuh Nanda pun
menangis lagi sambil berlari kekamarnya dan berteriak, “tidak mau … mama jahat,
aku tidak mau!!.. aku menghampiri nanda ke kamarnya dia tidur sambil memeluk
bantalnya kesayangannya aku memeluknya erat kami pun menangis.
Hari yang
dijanjikan Ria tiba, yah dia menjanjikan kepada ku satu minggu agar bisa
membawa nanda. Nanda telah rapi matanya tampak habis menangis usianya baru 5
tahun. Tapi dia harus berpisah dengan orang yang selama ini mendampingi dan
menyayanginya. Nanda harus berpisah dengan kami. “Nanda ingat mama dan papa
yah,” kataku. “Jangan lupa sholat”, kata suami ku. Nanda menahan tangisnya aku
bilang padanya anak laki pantang menangis Nanda harus tegar. Aku ingatkan
kembali janji kami bahwa suatu saat pasti kita akan bertemu kembali. Ria
memegang tangan Nanda dan menciumnya Nanda hanya terdiam. Dia memandangku
matanya masih tersisa air mata. Aku memeluk suami tak kuasa melihatnya. “Mama
Nanda pergi yah” pamit Nanda sambil memelukku. Aku melihatnya kini air mata nya
jatuh kepipinya yang putih bersih. Aku menganggukkan kepala. Dituntunnya Nanda
menuju keluar pekaranganku. Sebelum masuk mobil Nanda kembali melihatku. Nanda
tersenyum seolah ingin memberiku kekuatan walau matanya tidak bisa
membohonginya. Nanda masuk kemobil dan kembali melihatkan sambil tersenyum..
yah Senyum Ananda yang terbaik telah diberikan 5 tahun ini. Senyum yang telah
menghapus sepiku. Kini telah pergi tinggal sepi kembali yang pasti akan
kurasakan semakin sepi .. sunyi dan senyap.
n
Nanda. Betapa dahsyat kasih sayang yang Allah tiupkan kepada hambanya. Berjuta
pertanyaan kerap muncul dalam fikiranku, sedang apakah dia?, apakah dia
bahagia? apakah dia rindu Mamanya ini?. Nanda yang setiap pagi memanggilku
untuk sekedar memeluk. Andai waktu berputar lain. Andaikan pula Ria melupakan
anaknya. Ohh … Malaikat kecilku aku rindu padamu. Kerinduan yang kuat
menyesakkan dadaku. Aku tidak pernah menyesali pertemuan Nandaku yang pernah
dititipkan 5 tahun lalu. Tapi kerinduan seorang Ibu yang telah membesarkannya.
Memeluk dan mencium setiap saat. Saat terindah yang tak akan bisa aku lewatkan
tanpanya.
Kerinduan
itu aku lepaskan untuk melihat ke kamarnya. Memang sengaja kamar ini tidak aku
rubah. Masih terpampang photo di dinding ketika usianya baru 2 tahun. Photo
Nanda ketika berulang tahun. Senyumnya, tatapan matanya membuatku semakin
rindu. “Nanda! Mama ingin memelukmu, nak!”. Tuhan berikan aku waktu lagi untuk
bertemu dengannya. Biarkan hari hari seperti yang pernah kami alami dapat
kembali menghampiri.Setelah aku puas memandang seisi kamarnya, biasanya aku
mulai membuka laci lemari Nanda. Aku buka lembaran gambar-gambar yang pernah
dibuatnya. Ada satu gambar yang aku suka. Gambar ketika Nanda di Play Group.
“Ini Mama.. ini Nanda .. dan ini Papa .. kita tetap bersama ya ma
selama-lamanya“ kata Nanda kala itu. Sesak nafasku kalau mengingat hal itu. Air
mataku kembali jatuh. Entah sudah berapa banyak aku bersimbah air mata ini .
“Tuhan apakah aku kuat menerima ujianMu. Berikan aku kekuatan agar dapat
kembali bertemu padanya”, hanya doa sebagai penguat dikala kerinduan ini sedemikian
membuncah dalam dada.
Mas
Andre sudah seminggu menjalani pelatihan di Yogya. Mbak Nie masih tetap aku
pekerjakan. Tapi kini beralih tugas merapikan rumah terutama kamar Nanda. “Kamu
bersihkan dari debu ya Nie.. siapa tau Nanda akan kembali lagi,” kataku. Mbak
Nie hanya terdiam. Dia pun merasakan kesedihan karena Mbak Nie turut merawat
Nanda semenjak bayi. Hmm.. Nandaku sayang biasanya malam ini ada dikamar kami,
bercanda..bercerita.. dan akhirnya tertidur. Sampai akhirnya mas Andre
menggendongnya kekamar. 8 bulan sudah berlalu, belum juga aku bisa
melupakannya. Mas Andre sudah seringkali menasehatiku untuk melupakannya,
akupun sudah berusaha namun bayangan Nanda tetap ada. Dia tak mau pergi dari
hati dan ingatanku. Mas Andre berjanji akhir tahun nanti kami akan cuti bersama
dan akan berkunjung kerumah Steve di Kanada. Aku sadar biaya perjalanan pasti
sangat besar belum lagi Toronto adalah kota tujuan kami. Kota yang sangat besar
dan modern. Pasti sulit mencari orang disana.
Akhirnya
waktu itu pun datang juga. Setelah melakukan persiapan semua, kamipun akhirnya
berangkat menuju Toronto Kanada, perjalanan panjang yang memakan waktu lebih
dari 2 x 24 jam. Perjalanan melintasi lautan dan benua serta transit di
berbagai kota negara berbeda seperti Kuala Lumpur, Amman, Amsterdam dan
Montreal. Aku membayangkan perjalanan Nanda yang panjang dengan orang yang
masih asing baginya. Pasti betapa menyiksa dia. Tapi aku buang jauh-jauh
perasaan itu mungkin saja dia bahagia karena orang tuanya begitu perhatian pada
Nanda. Tepat pukul 23.00 pesawat kami mendarat di bandara Internasional
Toronto. Kami disambut oleh Mr James perwakilan dari perusahaan Pertambangan
tempat Mas Andre bekerja yang kebetulan berpusat di Kanada. Kami diantar ke
sebuah hotel bertingkat 8 di tengah kota. Kami menginap di “Venture Inn Toronto
Yorkville”. Hotel ini terletak di 89 Avenue Road, Toronto. Dari sini kami dapat
melihat gedung-gedung indah yang menjadi landmark Kota Toronto. Namun bukan
keindahan itu yang aku nikmati. Semua tertutupi oleh keinginanku untuk segera
bertemu Nanda.
Esoknya
setelah kami beristirahat. Mr. james kembali mengantar kami sesuai alamat yang
diberikan oleh Ria. Setelah mencari dan bertanya kesana kemari. Tiba kami
dialamat yang kami cari. Namun betapa lemasnya serasa kaki ini tak lagi
bertulang. Perjalanan jauh yang sia-sia karena Ria telah pindah entah kemana.
Sudah 2 bulan yang lalu mereka pindah flat. Pemiliknya juga tidak tahu pindah
kemana, karena mereka begitu tergesa-gesa.. Aku semakin khawatir keadaan Nanda.
“Mas kita harus mencarinya..” pintaku pada Mas Andre. “Yah besok kita cari lagi
sekarang sudah menjelang malam”. Kami sepakat untuk mencari kembali Nanda
besok. Sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata. Terbayang wajah Nanda
yang entah dimana kini keberadaannya. Memang tidak mudah mencari seseorang di
kota sebesar ini. Kami sudah menghubungi konsulat RI di Toronto namun hasilnya
sia-sia.. Tidak hanya waktu cuti yang akan berakhir namun persediaan dana juga
semakin menipis. Setelah 2 minggu kami berusaha dengan terpaksa harus kembali
ke Indonesi
Sesampainya
di Indonesia, yang aku lakukan adalah berusaha dan terus berusaha melupakan
Nanda. Mas Andre menyarankan agar kamar Nanda dirapikan saja simpan
barang-barangnya dalam gudang. Jangan mas!! aku ingin tetap seperti ini,” aku
berkeras agar tidak berubah. Namun Mas Andre punya pandangan berbeda. “Maya,
Kita sayang Nanda justru itu kita simpan yah barang ini. Dan biar kamu juga
ngak terus-terusan seperti ini. Aku juga sedih. Tapi hidup kita harus terus
berjalan ada atau tidak ada Nanda,” Mas Andre berusaha menjelaskan. 1 tahun
sudah berlalu aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhku. Mungkin
karena setahun ini aku malas berolah raga, makanpun sekenanya. Tubuhku semakin
kurus dan aku rasakan gejala penyakit pada bagian perutku. Sampai suatu hari
aku jatuh pingsan karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerangku. Aku
dibawa Mas Andre ke rumah sakit. Setelah melalukan diagnose dan check up,
dokter mendiagnosa penyakit yang selama ini aku takutkan. Aku menderita kanker
rahim. Aku pasrah menerimanya dan siap hidup dengan penyakit yang aku derita
bahkan kalaupun Allah memanggilku aku rela apalagi semenjak Nanda pergi rasanya
berkurang semangat hidupku. Mas Andre terus mendampingiku dan membesarkan
hatiku. “Sabar ya sayang, kamu pasti sembuh.. pasti!” Mas Andre membesarkan
hatiku walau aku tau dia juga begitu terpukul atas penyakitku ini.
Waktu
terus bergulir, sampai suatu kali, ketika jam di ruang tamu berdentang pukul 1
dini hari. Tiba-tiba telepon rumahku berbunyi. Mas Andre bangun dari tidurnya
dan mengangkat telepon. Aku terbangun dan masih terbaring ditempat tidur, aku
berusaha menajamkan pendengaranku. “Ada apa.. siapa yang malam malam telepon
rumah kami..?” fikiranku menerawang banyak sangka. “Ya, oh kamu Ria..”
terdengar Mas Andre berbicara. “Ria?..” aku bangkit dan merebut telepon yang
Mas Andre pegang. “Ria kamu baik baik saja? gimana Nanda..?” tanyaku. “Ya May..
Nanda baik-baik saja..” jawab Ria. Aku jelaskan bahwa kami baru saja dari
Kanada untuk mencari Nanda sesuai alamat yang diberikan Ria. Ria minta maaf,
mereka terpaksa harus pindah flat karena sudah tidak sanggup membayar flat yang
selama ini ia tempati. Steve telah di PHK setelah berkelahi dengan atasannya.
Ternyata itulah alasannya kenapa dia kembali ke Kanada, jadi bukan karena habis
masa kerjanya. Ria kembali menjelaskan,” dia kini frustasi.. setiap malam dia
berkumpul dengan kawan-kawan lamanya dan pulang selalu dalam keadaan Mabuk. Aku
tidak bisa mengadu kemana-mana bahkan kepada orang tua Steve.
“Terus
bagaimana dengan Nanda, Ria” tak sabar aku bertanya pada Ria.
Ria memastikan kalau Nanda baik-baik saja. Ria memberikan alamatnya yang baru dan no kontaknya. Belum sempat aku berbicara telepon telah ditutup dan ketika aku hubungi kembali nomor tidak aktif yang aku dapatkan. Semakin berkecamuk fikiranku memikirkannya. Aku kini tidak bekerja. Mas Andre lebih meminta aku beristirahat saja dirumah karena penyakitku. Lagi pula aku dikantor sudah sulit berkonsentrasi maklum pekerjaanku membutuhkan ketelitian. Aku pun mengambil pensiun dini. Aku pasrah menerima penyakitku ini. Seperti biasa penyakit Kanker yang membuat korban tinggal menghitung waktu kapan saat ajal menjemput. Aku pasrah kepada Allah, Aku telah siap menerima keadaan bahkan yang terburuk sekalipun. Malah aku berfikir semakin cepat aku meninggal semakin baik karena Mas Andre pasti akan cepat mendapatkan penggantiku dan akan memberikan cucu untuk ibunya. Aku yakin Allah tidak memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya.
Ria memastikan kalau Nanda baik-baik saja. Ria memberikan alamatnya yang baru dan no kontaknya. Belum sempat aku berbicara telepon telah ditutup dan ketika aku hubungi kembali nomor tidak aktif yang aku dapatkan. Semakin berkecamuk fikiranku memikirkannya. Aku kini tidak bekerja. Mas Andre lebih meminta aku beristirahat saja dirumah karena penyakitku. Lagi pula aku dikantor sudah sulit berkonsentrasi maklum pekerjaanku membutuhkan ketelitian. Aku pun mengambil pensiun dini. Aku pasrah menerima penyakitku ini. Seperti biasa penyakit Kanker yang membuat korban tinggal menghitung waktu kapan saat ajal menjemput. Aku pasrah kepada Allah, Aku telah siap menerima keadaan bahkan yang terburuk sekalipun. Malah aku berfikir semakin cepat aku meninggal semakin baik karena Mas Andre pasti akan cepat mendapatkan penggantiku dan akan memberikan cucu untuk ibunya. Aku yakin Allah tidak memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya.
“Aku
tidak boleh menyerah pada penyakitku ini” suatu kali aku menguatkan diri. Aku
berfikir bahwa Nanda harus aku yakini dalam keadaan baik dan bahagia. Kalaupun
kami tidak lagi bertemu, aku rela dan ikhlas asalkan dia bahagia. Ya
Allah..Tuhan rabb yang maha Pemberi, beri aku waktu sesaat saja sampai aku
dipertemukannya. Ria dimana kau sekarang berada. Kenapa kau tidak menghubungi
kami kembali. Setiap waktu aku selalu menunggu Ria menelepon atau aku yang
berusaha menghubunginya, namun setiap kali aku coba selalu tidak aktif. Sampai
satu hari aku berhasil menghubunginya dan dijawab oleh Ria. Namun yang aku
dengar suara isak tangisnya. “May .. maafkan aku yah.. aku telah membawa Nanda
darimu namun aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan”. Ria pun mulai bercerita
kalau Steve kini telah berbeda perangainya Steve yang kini kasar. Ketahuan saja
Ria menelepon maka tangannya akan menampar wajah wanita malang itu. Aku sangat
khawatir pada keadaanya, terutama Nanda, “Ria tolong aku ingin bicara dengan
Nanda.. plis aku mohon Ria”. Ria pun memberikan teleponnya ke Nanda. “Mama..”
suara kecil yang aku rindukan terdengar dari jauh sana. “Nanda baik-baik saja?”
Tanyaku. “Aku ingin pulang Ma.. aku takut disini Papa Steve Galak, aku
dipukulnya. Mama Ria juga”. Gemetar aku mendengarnya.
“Nanda sabar yah !!.. Mama pasti jemput kamu”. Aku mencoba membesarkan hati Nanda.
“Nanda sabar yah !!.. Mama pasti jemput kamu”. Aku mencoba membesarkan hati Nanda.
Sekembali
Mas Andre dari kantor aku langsung menyampaikan pembicaraan kami. Setelah
berdiskusi dan mencari jalan keluar. Akhirnya dengan alasan berobat atas
penyakitku ini, kami pun mendapatkan kesempatan kembali ke Kanada. Level
jabatan Mas Andre sebagai senior manajer memungkinkan aku berobat ke Kanada di
sebuah Rumah Sakit kanker terbesar “Princess Margaret Hospital” di Toronto. Aku
berangkat ke Toronto dengan keyakinan bahwa kali ini aku pasti bertemu Nanda
kecilku. Perjalanan panjang yang kembali aku lalui. Dengan menahan sakitku aku
tetap berharap bisa tiba di Toronto dengan selamat. Akhirnya kembali aku
menginjakkan kakiku di Toronto, Kanada. Yang pertama kali aku lakukan adalah ke
Konsulat Jenderal RI di Jarvis Street, Toronto. Dengan didampingi pejabat dari
Head Office Perusahaan suamiku, Mr. James, kami menemui seorang Staff konsulat,
Pak Usman. Setelah kami menjelaskan Pak Usman bersedia membantu apalagi kami
didampingi seorang Pejabat kawan Mas Andre. Untuk keamanan kami telah
melaporkan kepada police di Toronto untungnya Police tersebut kawan baik Mr
James. Kami menuju flat di Jhon Street. Kurang lebih 30 menit dari KJRI. Flat
no. 75 di lantai 3 tujuan kami. Akhirnya kami tiba disana. Hatiku sangat cemas.
Flat yang tertutup rapat, tampak suasana yang gelap dan suram di dalam sana.
Akhirnya polisi mengetuk pintu dan menjelaskan kedatangannya. Dari dalam
terdengar suara berat yang menjawab. Belum lagi pintu terbuka Ria menyeruak
dari dalam. “Mayaaa..maafkan aku!” tangisnya. Tampak matanya yang lebam belum
lagi tangannya yang penuh luka bakar. Polisi dengan sigap meringkus dan membawa
Steve ke Kantor Polisi untuk diproses dengan tuduhan kekerasan dan
penganiayaan.
Dengan
cemas aku masuk ke dalam kamar dan kusaksikan tubuh kecil Nandaku sedang
terbaring lemah. “Nanda!!, ini mama, nak” Nanda bangun dari tidurnya. “Mama ..
“ suara Nanda gemetar. Wajahnya yang pucat dan kurus tampak berbeda sekali. Tapi
tatapan mata itu tak dapat aku lupakan. Aku memeluknya erat dengan berurai air
mata mengucap syukur karena telah aku temukan kembali malaikat kecilku. Sudah 2
bulan ini dia kena penyakit radang paru-paru. Aku tidak bisa membawa kedokter.
Steve selalu melarangnya. Lagipula aku tidak punya uang. Ria tertunduk
menjelaskan hal itu. Aku begitu marah. Tapi aku tahan. Aku harus segera membawa
Nanda kerumah sakit. Aku pilih rumah sakit tempat yang sama denganku. Untungnya
polisi telah menyiapkan ambulan dan langsung membawanya. “Mas Andre.. aku minta
dirawat satu kamar ya dengan Nanda!! Pintaku. Mas Andre hanya tersenyum dan
menganggukan kepalanya. Sebenarnya aku kasihan sekali pada Suamiku ini karena
aku, dia harus susah seperti ini. Di ambulan aku pegang erat tangan Nanda.
Senyumnya kini terlihat. Ria turut tersenyum. Dia mengatakan sejak Nanda dibawa
dari rumah kami, tidak pernah dia melihat Nanda tersenyum. “Maya .. maafkan aku
yah. Silahkan kau besarkan Nanda .. aku memang ibu kandungnya tapi aku tidak
bisa memberikannya kebahagiaan” kata Ria pelan. Nanda tersenyum kembali aku
menatap Ria dengan penuh suka cita. Aku peluk Ria sambil mengucapkan terima
kasih. Nandaku telah kembali dan akan aku lihat senyum itu sepanjang hari.
Senyum yang akan menghangatkan pagi dan menebarkan warna indah dirumah kami. Senyum
Ananda.
Setelah
kembali ke Indonesia Ria langsung mengurus surat adopsi atas nama Nanda kepada
kami. Setelah itu Ria pergi entah kemana. Steve di vonis hukuman 18 tahun
penjara di pengadilan Toronto. Nanda kini telah pulih tubuhnya dan kembali
sehat. Keceriaan semakin terlihat diwajahnya. Sedangkan aku kini telah sembuh
setelah rahimku diangkat sehingga dipastikan aku tidak akan punya anak lagi.
Sedangkan suamiku dia tetap menjadi orang terbaik bagi hidupku.
By: Lukman Snada
By: Lukman Snada