akar keikhlasan yg tertancap dalam hati orang2 lemah jauh lebih mudah bertahan dibandingkan keikhlasan yg terus diterpa angin ketenaran & tererosi dgn bisikan2 nafsu. Orang2 kuat menjadi mulia jika mereka memuliakan orang lemah. Orang2 kaya tdk akan mendapat cinta Allah jika tda menyantuni orang2 yg tdk berdaya.

Rabu, 01 Juni 2011

Senyum Ananda


Aku Maya, kini usiaku 36 tahun, bukan usia yang lagi muda. Mas andre suami yang begitu menyayangiku. Diusianya yang 40 tahun dia tampak lebih gagah dengan jabatan sebagai senior manager di perusahaan pertambangan terkemuka memberikan kami kehidupan yang mapan. Apalagi, aku juga bekerja sebagai Marketing Manajer sebuah Bank pemerintah. Namun kebahagiaan kami belum lengkap karena diusia pernikahan yang ke 12 ini aku juga belum dikarunia seorang anak. Berbagai upaya sudah kami lakukan, dari therapy ke dokter ahli sampai pengobatan alternative. Kami sudah pasrah namun kekhawatiranku selalu ada. Apalagi ibu mertuaku selalu menanyakan kehadiran cucunya. Maklum mas Andre anak laki satu-satunya dari 4 bersaudara yang semua wanita. Suamiku memang selalu menunjukkan rasa sayangnya. Dia selalu membesarkan hatiku. “Suatu saat dik, Allah pasti memberi kita anak, kita berdoa saja” katanya. Aku tersenyum namun rasa malu tidak bisa kuhindari, apakah aku mandul, apakah aku tidak bisa memberikan keturunan. Aku takut kehilangan masku. Aku tidak mau dihari tuaku hidup sendirian.
Kami menjalani kehidupan seperti hari-hari biasanya. Sampai suatu saat dihari minggu ketika kami baru saja berolahraga datang sahabatku Ria yang tampak begitu tergesa-gesa. Ada seorang bayi mungil digendongannya mungkin usianya baru satu minggu. “May, aku minta tolong ya, kamu sahabatku tolong jaga anak ini” kata Ria. Aku terheran dan semakin bingung. “Kamu duduk dulu deh ceritakan pada kami” tambahku. Ria pun mulai cerita, saat ini dia harus pergi karena keluarganya kini telah mengusirnya akibat hubungan gelapnya dengan steve lelaki kelahiran Kanada. Orang tua Ria keturunan darah biru yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Ria harus pergi dan tujuannya hanya satu yaitu tempat pacarnya kini berada. Yah dia harus terbang ke Kanada pagi ini. “Tolong jaga dia May, aku tidak tahu harus kemana lagi. aku menyayanginya” kata Ria. “Suatu saat aku akan kembali untuk dia May”, tambahnya. Aku menatap mas Andre diapun tersenyum seolah bisa membaca fikiranku. “Baik Ria, aku akan jaga anak ini, siapa namanya? Tanyaku, “Ananda Ferdiansyah, di akta kelahirannya aku tulis begitu” jawab Ria. “Kapan kau kembali’” tanyaku lagi. “aku tidak tahu May, Steve telah kembali terlebih dahulu ke Kanada karena masa tugasnya telah berakhir dan dia harus kembali, jadi terpaksa aku berangkat sendirian. Oke ya May, Pliss”, kataya memelas. Aku pun menganggukan kepala. Kembali Ria sumringah, yah Ria sahabatku sejak SMP sampai SMA kami selalu bersama sampai kuliah yang memisahkan kami. Aku kuliah di Jogja sedangkan Ria masih di Jakarta. “May, ini baju nanda dan botol susunya”, Ria membuyarkan lamunanku. Ria kembali berkata,“maaf may aku belum bisa kasih apa-apa ke nanda tapi pasti aku ganti may”, kata Ria. Ria beralih memandang anaknya. “Nanda mama pergi dulu yah”, Kata Ria kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang. Aku memahami sekali, Ibu siapa yang tega melepas anak yang telah dikandung 9 bulan diperutnya.
Kini hari-hari ku tidak lagi sepi, Nanda telah melengkapi keinginanku memiliki anak. Walaupun aku sadar dia bukan anak kandungku. Sudah tugasku menjaga anak dari sahabatku walaupun aku juga meminta bantuan seorang baby sitter mbak Nie aku memanggilnya. Secara rutin aku selalu monitor perkembangannya. Nanda memang lucu sekali wajahnya perpaduan Padang dan kanada menjadikannya anak yang rupawan, kulitnya yang putih kemerahan membuat aku gemas sekali. Setiap pagi sebelum berangkat pasti aku peluk dan kuciumi. suamiku pun tak mau kalah, rebutan untuk menggendongnya menjadi kesenangan kami tersendiri. Nanda memang bagaikan malaikat dan cahaya bagi kami. Lambat laun kami semakin sayang. Dia sudah seperti anak kami sendiri. Pertumbuhan nanda tidak terasa semakin terlihat. Tubuhnya gemuk dan lucu, sehat sekali dia. Aku sekarang punya kesibukan baru menjadi seorang ibu. Hampir tiap hari aku buka majalah untuk melihat mode baju anak dan mainan keluaran baru. Rasanya bahagia sekali melihat dia tersenyum sambil memperlihatkan baju atau mainan yang kubelikan.
Kesibukan di kantor membuatku melupakan sejenak Nanda namun bila waktu menjelang berakhir tak sabar aku ingin segera tiba dirumah. Yah setiap sore Nanda telah rapi. Di atas kereta bayi bermain sambil makan sepiring cereal yang disuapi mbak Nie. Nanda diusianya yang 6 bulan tampak semakin sehat. Nanda pasti tertawa kalau klakson mobilku berbunyi perasaan suka cita terlihat jelas. Nanda tertawa sambil mengajak mbaknya segera ke mobilku. Nanda sudah bisa memanggil mama, yah aku kini mamanya. Setiap malam setelah kami bermain Nanda akan tertidur pulas, aku dan mas Andre selalu memandangnya dengan penuh kasih sayang. Hingga akupun tertidur pulas di sampingnya.
Waktu terus berlalu tanpa terasa kini 5 tahun sudah Nanda bersama kami. Nanda kini telah masuk sekolah TK. Tubuhnya lebih besar dibandingkan teman sebaya. Nanda juga cerdas sekali. Setiap hari sebelum kami berangkat kerja Nanda sudah bangun bahkan membangunkan kami untuk sholat shubuh bersama. Nanda memang sekolah di TKIT As salam dekat komplek rumah kami. Setelah mandi sambil sarapan kami selalu bercanda. Selalu saja nanda bertingkah polah lucu yang membuat kami tertawa. “Mama sayang ngak sama Nanda” Tanya Nanda, aku pun tersenyum. Loh kok Nanda Tanya begitu” kataku. “Ngak Cuma mau nanya ajah”.katanya. Sini mama peluk” Nanda pun memelukku dengan eratnya mas Andre pun tersenyum melihat kami.
Suatu hari ketika baru saja aku pulang, mbak Nie bilang kalau tadi ada tamu. Namanya Ria dia ingin bertemu Nanda. Deg! hatiku pun berdegup kencang, yah Ria, Ibu kandung nanda sudah datang, apakah dia datang untuk mengambil anaknya?. Aku semalaman tak bisa tidur, aku takut kehilangan Nanda. 5 tahun cukup sudah membuat ikatan batin kami. Walau nanda bukan anakku tapi aku yang merawatnya dan menyaksikan perkembangannya detik demi detik.
Esoknya Ria datang disampingnya ada seorang pria bule. Ditanganya ada mobil remote control, “pasti untuk nanda”, fikirku. “Maya!” kata Ria memecahkan lamunanku. “Bagaimana nanda?” Tanyanya lagi. “Oh ya, sehat-sehat dia”, jawabku gugup. Dia sedang tidur jangan diganggu dulu. “Aku ingin melihatnya”, kata Ria. “Yah, sebentar lagi pasti dia bangun”, kataku. Belum lagi aku menutup mulutku aku mendengar suara nanda memanggil, “mama… mama.. itu mama yah? Sudah pulang ya ma?”, suara lembut Nanda yang sering terucap kini terasa berbeda. “Ya sayang sini deh!” sahutku. Nanda keluar dari kamarnya. Sambil mengucap-ucap matanya yang masih sipit karena tidurnya. “Nanda sini deh”, kata suamiku, aku hanya diam dan menunduk. Berjuta gejolak dibatinku. Aku tak kuat menerima ini terlalu cepat. Tapi aku juga tak boleh egois. “Nanda!,” kataku, “ini Mama Ria dan Papa steve”, aku membiasakan memanggil itu. “Nanda,” kata Ria. “Sini deh!, mama Ria punya mainan buat kamu”. Nanda bukan menghampiri malah berlari kebelakangku. “Ngak mau!” . katanya. “Yah!, mungkin belum terbiasa ri”, kataku, nanda malah mengajakku nonton TV. Sambil matanya menatap tajam Ria dan Steve. Aku tau dia ingin menghindar darinya. Akupun menuntun ke ruang keluarga dan mulai menyalakan televisi aku terdiam fikiranku menerawang entah kemana.
Malam kini telah larut Ria dan Steve sudah kembali setelah berjanji besok akan kembali lagi. Nanda telah tertidur. Aku tak kuasa tangis menatap wajahnya. Yah wajah yang setiap hari aku pandangi. Aku memeluk erat suamiku, aku berbisik takut nanda bangun, “Aku tak ingin kehilangan dia mas, Aku rela kehilang segalanya mas asal dia masih bersamaku”. Suamikupun bisa memahaminya dia hanya memelukku erat. Aku tahu pasti perasaan mas Andre tidak berbeda denganku. Hari ini aku sengaja cuti begitu pula suamiku. Aku takut Nanda diambil paksa oleh Ibunya. Tak lama kemudian Ria dan Steve tiba dirumah sesuai yang dijanjikannya di tangannya masih masih memegang mobil remote yang belum sempat diberikan ke Nanda. “May boleh aku bicara dengannya”, Tanyanya. “Yah.. yah.. boleh boleh donk kamu kan mamanya”, jawabku gugup. “Nanda sini deh!”, panggilku nanda pun menghampiri. “Kamu beri salam mama Ria dan papa Steve”. Nanda pun memberi salam dan mengecup tangannya. “Nanda“, sapa Ria. “Mama Ria ingin bicara boleh?” Nandapun hanya terdiam. “Kami ini adalah orang tuamu, mama dan papamu”, Nanda memandang kami seolah meminta kepastian. Aku hanya tertunduk, Ria pun meneruskan kalimatnya. “Mama ria menitipkan kamu ke mama Maya dan sekarang kita telah bersama, kami akan mengajak kamu tinggal bersama di kanada, oke”. Bagai petir menyambar jantungku mendengar kata-kata Ria. Yah berarti aku harus bebar-benar berpisah dengannya. Nanda menjerit sambil teriak, “Tidak mau!!.. tidak mau!!.. nanda ingin sama mama, Nanda tidak mau pergi”,. Aku memeluknya erat untuk menenangkan Nanda. Ria kembali terdiam. Ria faham ini sangat berat bagi Nanda tapi Ria sudah bertekad untuk mengajak nanda walau aku telah memohonnya untuk tidak membawa nanda tapi Ria bersikeras “dia Anakku May!, setiap malam aku memimpikan dia, aku harus membawanya. Terima kasih kamu telah merawatnya, aku telah siapkan uang pengganti kau bisa menerima uang ini”, kata ria dengan memelas. Aku menepisnya, “bagiku uang tidak seberapa Ria, tapi yang mahal adalah kasih sayang kami itu yang tidak bisa kamu beli”, kataku. “Tapi aku harus membawanya may, bagaimanapun caranya”, Ria menutup teleponnya.
Aku pun berdiskusi dengan suami, yah aku harus melepasnya dan membiarkan orang tua kandungnya merawatnya. Aku memanggil nanda dan mencoba untuk memberikan pengertian walau berat aku berkata. Tanpa terasa air mataku jatuh Nanda pun menangis lagi sambil berlari kekamarnya dan berteriak, “tidak mau … mama jahat, aku tidak mau!!.. aku menghampiri nanda ke kamarnya dia tidur sambil memeluk bantalnya kesayangannya aku memeluknya erat kami pun menangis.
Hari yang dijanjikan Ria tiba, yah dia menjanjikan kepada ku satu minggu agar bisa membawa nanda. Nanda telah rapi matanya tampak habis menangis usianya baru 5 tahun. Tapi dia harus berpisah dengan orang yang selama ini mendampingi dan menyayanginya. Nanda harus berpisah dengan kami. “Nanda ingat mama dan papa yah,” kataku. “Jangan lupa sholat”, kata suami ku. Nanda menahan tangisnya aku bilang padanya anak laki pantang menangis Nanda harus tegar. Aku ingatkan kembali janji kami bahwa suatu saat pasti kita akan bertemu kembali. Ria memegang tangan Nanda dan menciumnya Nanda hanya terdiam. Dia memandangku matanya masih tersisa air mata. Aku memeluk suami tak kuasa melihatnya. “Mama Nanda pergi yah” pamit Nanda sambil memelukku. Aku melihatnya kini air mata nya jatuh kepipinya yang putih bersih. Aku menganggukkan kepala. Dituntunnya Nanda menuju keluar pekaranganku. Sebelum masuk mobil Nanda kembali melihatku. Nanda tersenyum seolah ingin memberiku kekuatan walau matanya tidak bisa membohonginya. Nanda masuk kemobil dan kembali melihatkan sambil tersenyum.. yah Senyum Ananda yang terbaik telah diberikan 5 tahun ini. Senyum yang telah menghapus sepiku. Kini telah pergi tinggal sepi kembali yang pasti akan kurasakan semakin sepi .. sunyi dan senyap.
Semenjak kepergian Nanda rumah ini terasa suram. Matahari pagi tak lagi kurasakan ramah menyapa, Bunga-bunga sudah kehilangan warna indahnya. Burung-burungpun terasa sudah tidak bernyanyi merdu. Yang ada hanya kemuraman. Yah… setelah kepergiannya semangat hidupku kini lunglai. Aku lebih banyak melamun memikirkan Nanda. Betapa dahsyat kasih sayang yang Allah tiupkan kepada hambanya. Berjuta pertanyaan kerap muncul dalam fikiranku, sedang apakah dia?, apakah dia bahagia? apakah dia rindu Mamanya ini?. Nanda yang setiap pagi memanggilku untuk sekedar memeluk. Andai waktu berputar lain. Andaikan pula Ria melupakan anaknya. Ohh … Malaikat kecilku aku rindu padamu. Kerinduan yang kuat menyesakkan dadaku. Aku tidak pernah menyesali pertemuan Nandaku yang pernah dititipkan 5 tahun lalu. Tapi kerinduan seorang Ibu yang telah membesarkannya. Memeluk dan mencium setiap saat. Saat terindah yang tak akan bisa aku lewatkan tanpanya.
Kerinduan itu aku lepaskan untuk melihat ke kamarnya. Memang sengaja kamar ini tidak aku rubah. Masih terpampang photo di dinding ketika usianya baru 2 tahun. Photo Nanda ketika berulang tahun. Senyumnya, tatapan matanya membuatku semakin rindu. “Nanda! Mama ingin memelukmu, nak!”. Tuhan berikan aku waktu lagi untuk bertemu dengannya. Biarkan hari hari seperti yang pernah kami alami dapat kembali menghampiri.Setelah aku puas memandang seisi kamarnya, biasanya aku mulai membuka laci lemari Nanda. Aku buka lembaran gambar-gambar yang pernah dibuatnya. Ada satu gambar yang aku suka. Gambar ketika Nanda di Play Group. “Ini Mama.. ini Nanda .. dan ini Papa .. kita tetap bersama ya ma selama-lamanya“ kata Nanda kala itu. Sesak nafasku kalau mengingat hal itu. Air mataku kembali jatuh. Entah sudah berapa banyak aku bersimbah air mata ini . “Tuhan apakah aku kuat menerima ujianMu. Berikan aku kekuatan agar dapat kembali bertemu padanya”, hanya doa sebagai penguat dikala kerinduan ini sedemikian membuncah dalam dada.
Mas Andre sudah seminggu menjalani pelatihan di Yogya. Mbak Nie masih tetap aku pekerjakan. Tapi kini beralih tugas merapikan rumah terutama kamar Nanda. “Kamu bersihkan dari debu ya Nie.. siapa tau Nanda akan kembali lagi,” kataku. Mbak Nie hanya terdiam. Dia pun merasakan kesedihan karena Mbak Nie turut merawat Nanda semenjak bayi. Hmm.. Nandaku sayang biasanya malam ini ada dikamar kami, bercanda..bercerita.. dan akhirnya tertidur. Sampai akhirnya mas Andre menggendongnya kekamar. 8 bulan sudah berlalu, belum juga aku bisa melupakannya. Mas Andre sudah seringkali menasehatiku untuk melupakannya, akupun sudah berusaha namun bayangan Nanda tetap ada. Dia tak mau pergi dari hati dan ingatanku. Mas Andre berjanji akhir tahun nanti kami akan cuti bersama dan akan berkunjung kerumah Steve di Kanada. Aku sadar biaya perjalanan pasti sangat besar belum lagi Toronto adalah kota tujuan kami. Kota yang sangat besar dan modern. Pasti sulit mencari orang disana.
Akhirnya waktu itu pun datang juga. Setelah melakukan persiapan semua, kamipun akhirnya berangkat menuju Toronto Kanada, perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari 2 x 24 jam. Perjalanan melintasi lautan dan benua serta transit di berbagai kota negara berbeda seperti Kuala Lumpur, Amman, Amsterdam dan Montreal. Aku membayangkan perjalanan Nanda yang panjang dengan orang yang masih asing baginya. Pasti betapa menyiksa dia. Tapi aku buang jauh-jauh perasaan itu mungkin saja dia bahagia karena orang tuanya begitu perhatian pada Nanda. Tepat pukul 23.00 pesawat kami mendarat di bandara Internasional Toronto. Kami disambut oleh Mr James perwakilan dari perusahaan Pertambangan tempat Mas Andre bekerja yang kebetulan berpusat di Kanada. Kami diantar ke sebuah hotel bertingkat 8 di tengah kota. Kami menginap di “Venture Inn Toronto Yorkville”. Hotel ini terletak di 89 Avenue Road, Toronto. Dari sini kami dapat melihat gedung-gedung indah yang menjadi landmark Kota Toronto. Namun bukan keindahan itu yang aku nikmati. Semua tertutupi oleh keinginanku untuk segera bertemu Nanda.
Esoknya setelah kami beristirahat. Mr. james kembali mengantar kami sesuai alamat yang diberikan oleh Ria. Setelah mencari dan bertanya kesana kemari. Tiba kami dialamat yang kami cari. Namun betapa lemasnya serasa kaki ini tak lagi bertulang. Perjalanan jauh yang sia-sia karena Ria telah pindah entah kemana. Sudah 2 bulan yang lalu mereka pindah flat. Pemiliknya juga tidak tahu pindah kemana, karena mereka begitu tergesa-gesa.. Aku semakin khawatir keadaan Nanda. “Mas kita harus mencarinya..” pintaku pada Mas Andre. “Yah besok kita cari lagi sekarang sudah menjelang malam”. Kami sepakat untuk mencari kembali Nanda besok. Sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata. Terbayang wajah Nanda yang entah dimana kini keberadaannya. Memang tidak mudah mencari seseorang di kota sebesar ini. Kami sudah menghubungi konsulat RI di Toronto namun hasilnya sia-sia.. Tidak hanya waktu cuti yang akan berakhir namun persediaan dana juga semakin menipis. Setelah 2 minggu kami berusaha dengan terpaksa harus kembali ke Indonesi
Sesampainya di Indonesia, yang aku lakukan adalah berusaha dan terus berusaha melupakan Nanda. Mas Andre menyarankan agar kamar Nanda dirapikan saja simpan barang-barangnya dalam gudang. Jangan mas!! aku ingin tetap seperti ini,” aku berkeras agar tidak berubah. Namun Mas Andre punya pandangan berbeda. “Maya, Kita sayang Nanda justru itu kita simpan yah barang ini. Dan biar kamu juga ngak terus-terusan seperti ini. Aku juga sedih. Tapi hidup kita harus terus berjalan ada atau tidak ada Nanda,” Mas Andre berusaha menjelaskan. 1 tahun sudah berlalu aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhku. Mungkin karena setahun ini aku malas berolah raga, makanpun sekenanya. Tubuhku semakin kurus dan aku rasakan gejala penyakit pada bagian perutku. Sampai suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerangku. Aku dibawa Mas Andre ke rumah sakit. Setelah melalukan diagnose dan check up, dokter mendiagnosa penyakit yang selama ini aku takutkan. Aku menderita kanker rahim. Aku pasrah menerimanya dan siap hidup dengan penyakit yang aku derita bahkan kalaupun Allah memanggilku aku rela apalagi semenjak Nanda pergi rasanya berkurang semangat hidupku. Mas Andre terus mendampingiku dan membesarkan hatiku. “Sabar ya sayang, kamu pasti sembuh.. pasti!” Mas Andre membesarkan hatiku walau aku tau dia juga begitu terpukul atas penyakitku ini.
Waktu terus bergulir, sampai suatu kali, ketika jam di ruang tamu berdentang pukul 1 dini hari. Tiba-tiba telepon rumahku berbunyi. Mas Andre bangun dari tidurnya dan mengangkat telepon. Aku terbangun dan masih terbaring ditempat tidur, aku berusaha menajamkan pendengaranku. “Ada apa.. siapa yang malam malam telepon rumah kami..?” fikiranku menerawang banyak sangka. “Ya, oh kamu Ria..” terdengar Mas Andre berbicara. “Ria?..” aku bangkit dan merebut telepon yang Mas Andre pegang. “Ria kamu baik baik saja? gimana Nanda..?” tanyaku. “Ya May.. Nanda baik-baik saja..” jawab Ria. Aku jelaskan bahwa kami baru saja dari Kanada untuk mencari Nanda sesuai alamat yang diberikan Ria. Ria minta maaf, mereka terpaksa harus pindah flat karena sudah tidak sanggup membayar flat yang selama ini ia tempati. Steve telah di PHK setelah berkelahi dengan atasannya. Ternyata itulah alasannya kenapa dia kembali ke Kanada, jadi bukan karena habis masa kerjanya. Ria kembali menjelaskan,” dia kini frustasi.. setiap malam dia berkumpul dengan kawan-kawan lamanya dan pulang selalu dalam keadaan Mabuk. Aku tidak bisa mengadu kemana-mana bahkan kepada orang tua Steve.
“Terus bagaimana dengan Nanda, Ria” tak sabar aku bertanya pada Ria.
Ria memastikan kalau Nanda baik-baik saja. Ria memberikan alamatnya yang baru dan no kontaknya. Belum sempat aku berbicara telepon telah ditutup dan ketika aku hubungi kembali nomor tidak aktif yang aku dapatkan. Semakin berkecamuk fikiranku memikirkannya. Aku kini tidak bekerja. Mas Andre lebih meminta aku beristirahat saja dirumah karena penyakitku. Lagi pula aku dikantor sudah sulit berkonsentrasi maklum pekerjaanku membutuhkan ketelitian. Aku pun mengambil pensiun dini. Aku pasrah menerima penyakitku ini. Seperti biasa penyakit Kanker yang membuat korban tinggal menghitung waktu kapan saat ajal menjemput. Aku pasrah kepada Allah, Aku telah siap menerima keadaan bahkan yang terburuk sekalipun. Malah aku berfikir semakin cepat aku meninggal semakin baik karena Mas Andre pasti akan cepat mendapatkan penggantiku dan akan memberikan cucu untuk ibunya. Aku yakin Allah tidak memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya.
“Aku tidak boleh menyerah pada penyakitku ini” suatu kali aku menguatkan diri. Aku berfikir bahwa Nanda harus aku yakini dalam keadaan baik dan bahagia. Kalaupun kami tidak lagi bertemu, aku rela dan ikhlas asalkan dia bahagia. Ya Allah..Tuhan rabb yang maha Pemberi, beri aku waktu sesaat saja sampai aku dipertemukannya. Ria dimana kau sekarang berada. Kenapa kau tidak menghubungi kami kembali. Setiap waktu aku selalu menunggu Ria menelepon atau aku yang berusaha menghubunginya, namun setiap kali aku coba selalu tidak aktif. Sampai satu hari aku berhasil menghubunginya dan dijawab oleh Ria. Namun yang aku dengar suara isak tangisnya. “May .. maafkan aku yah.. aku telah membawa Nanda darimu namun aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan”. Ria pun mulai bercerita kalau Steve kini telah berbeda perangainya Steve yang kini kasar. Ketahuan saja Ria menelepon maka tangannya akan menampar wajah wanita malang itu. Aku sangat khawatir pada keadaanya, terutama Nanda, “Ria tolong aku ingin bicara dengan Nanda.. plis aku mohon Ria”. Ria pun memberikan teleponnya ke Nanda. “Mama..” suara kecil yang aku rindukan terdengar dari jauh sana. “Nanda baik-baik saja?” Tanyaku. “Aku ingin pulang Ma.. aku takut disini Papa Steve Galak, aku dipukulnya. Mama Ria juga”. Gemetar aku mendengarnya.
“Nanda sabar yah !!.. Mama pasti jemput kamu”. Aku mencoba membesarkan hati Nanda.

Sekembali Mas Andre dari kantor aku langsung menyampaikan pembicaraan kami. Setelah berdiskusi dan mencari jalan keluar. Akhirnya dengan alasan berobat atas penyakitku ini, kami pun mendapatkan kesempatan kembali ke Kanada. Level jabatan Mas Andre sebagai senior manajer memungkinkan aku berobat ke Kanada di sebuah Rumah Sakit kanker terbesar “Princess Margaret Hospital” di Toronto. Aku berangkat ke Toronto dengan keyakinan bahwa kali ini aku pasti bertemu Nanda kecilku. Perjalanan panjang yang kembali aku lalui. Dengan menahan sakitku aku tetap berharap bisa tiba di Toronto dengan selamat. Akhirnya kembali aku menginjakkan kakiku di Toronto, Kanada. Yang pertama kali aku lakukan adalah ke Konsulat Jenderal RI di Jarvis Street, Toronto. Dengan didampingi pejabat dari Head Office Perusahaan suamiku, Mr. James, kami menemui seorang Staff konsulat, Pak Usman. Setelah kami menjelaskan Pak Usman bersedia membantu apalagi kami didampingi seorang Pejabat kawan Mas Andre. Untuk keamanan kami telah melaporkan kepada police di Toronto untungnya Police tersebut kawan baik Mr James. Kami menuju flat di Jhon Street. Kurang lebih 30 menit dari KJRI. Flat no. 75 di lantai 3 tujuan kami. Akhirnya kami tiba disana. Hatiku sangat cemas. Flat yang tertutup rapat, tampak suasana yang gelap dan suram di dalam sana. Akhirnya polisi mengetuk pintu dan menjelaskan kedatangannya. Dari dalam terdengar suara berat yang menjawab. Belum lagi pintu terbuka Ria menyeruak dari dalam. “Mayaaa..maafkan aku!” tangisnya. Tampak matanya yang lebam belum lagi tangannya yang penuh luka bakar. Polisi dengan sigap meringkus dan membawa Steve ke Kantor Polisi untuk diproses dengan tuduhan kekerasan dan penganiayaan.
Dengan cemas aku masuk ke dalam kamar dan kusaksikan tubuh kecil Nandaku sedang terbaring lemah. “Nanda!!, ini mama, nak” Nanda bangun dari tidurnya. “Mama .. “ suara Nanda gemetar. Wajahnya yang pucat dan kurus tampak berbeda sekali. Tapi tatapan mata itu tak dapat aku lupakan. Aku memeluknya erat dengan berurai air mata mengucap syukur karena telah aku temukan kembali malaikat kecilku. Sudah 2 bulan ini dia kena penyakit radang paru-paru. Aku tidak bisa membawa kedokter. Steve selalu melarangnya. Lagipula aku tidak punya uang. Ria tertunduk menjelaskan hal itu. Aku begitu marah. Tapi aku tahan. Aku harus segera membawa Nanda kerumah sakit. Aku pilih rumah sakit tempat yang sama denganku. Untungnya polisi telah menyiapkan ambulan dan langsung membawanya. “Mas Andre.. aku minta dirawat satu kamar ya dengan Nanda!! Pintaku. Mas Andre hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sebenarnya aku kasihan sekali pada Suamiku ini karena aku, dia harus susah seperti ini. Di ambulan aku pegang erat tangan Nanda. Senyumnya kini terlihat. Ria turut tersenyum. Dia mengatakan sejak Nanda dibawa dari rumah kami, tidak pernah dia melihat Nanda tersenyum. “Maya .. maafkan aku yah. Silahkan kau besarkan Nanda .. aku memang ibu kandungnya tapi aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan” kata Ria pelan. Nanda tersenyum kembali aku menatap Ria dengan penuh suka cita. Aku peluk Ria sambil mengucapkan terima kasih. Nandaku telah kembali dan akan aku lihat senyum itu sepanjang hari. Senyum yang akan menghangatkan pagi dan menebarkan warna indah dirumah kami. Senyum Ananda.
Setelah kembali ke Indonesia Ria langsung mengurus surat adopsi atas nama Nanda kepada kami. Setelah itu Ria pergi entah kemana. Steve di vonis hukuman 18 tahun penjara di pengadilan Toronto. Nanda kini telah pulih tubuhnya dan kembali sehat. Keceriaan semakin terlihat diwajahnya. Sedangkan aku kini telah sembuh setelah rahimku diangkat sehingga dipastikan aku tidak akan punya anak lagi. Sedangkan suamiku dia tetap menjadi orang terbaik bagi hidupku. 

By: Lukman Snada