akar keikhlasan yg tertancap dalam hati orang2 lemah jauh lebih mudah bertahan dibandingkan keikhlasan yg terus diterpa angin ketenaran & tererosi dgn bisikan2 nafsu. Orang2 kuat menjadi mulia jika mereka memuliakan orang lemah. Orang2 kaya tdk akan mendapat cinta Allah jika tda menyantuni orang2 yg tdk berdaya.

Jumat, 12 Agustus 2011

Renungan: Adakah akhirat?

Ada sebuah cerita yang menarik tentang seorang manusia ketika dibangkitkan dari kematiamnnya. Ia marah marah:

hei siapaa yang berani membangunkan aku?

Namun ia terkejut karena baru menyadari bahwa ia telah berada di akhirat. Anehnya mata yang tadinya melotot dan wajah yang ketakutan tiba-tiba  berubah menjadi tersenyum dan cengar cengir. Orang-orang yang berada di sampingnya pun terheran-heran, kemudian ada yang bertanya: 

hei kenapa anda malah tersenyum? Bukankah ini hari celaka kita? Terkutuklah kita larena ternyata tuhan itu ada dan akhirat itu benar”.

Dia menjawab:“Ups!sori lah ya! Aku dulu kelihatannya beriman kok. Ya untuk jaga jaga klo tternyata cerita tentang tuhan itu benar dan akhirat itu ada. He….he… ternyta benar kan?

Orang yang lain menimpali:”lho!! Anda tuh sama dengan kmi… apa belum baca tulisan di dana?
Ia baru tersadar ternyata dirinya dikelompokkan bersama yang lainnya di tempat yang bertuliskan:

ORANG ORANG YANG TIDAK BERIMAN KEPADA ALLAH DAN AKHIRAT.

Dan akhirnya wajah orang itu berubahseperti raut muka orang-orang di sekitarnya. Pucat pasi ketakutan karena menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan mendapat murka dari Allah.

Nah saudaraku yang pintar, itu hanyalah salah satu cerita yang direka untuk mengingatkan kita semua akan adanya akhirat. Bukan hanya untuk mengingatkan orang yang tidak beriman akan akhirat, namun juga orang-orang yang mengaku beriman dengan keyakinan kurang dari 100% akan adanya akhirat. Atau dengan kata lain cerita untuk mengingatkan orang yang menganggap akhirat itu hanyalah cerita yang menakutkan dan belum tentu benar adanya.

Rabu, 10 Agustus 2011

Alhamdulillah Ramadhan datang lagi



Bulan terus berganti dalam kegersangan hati yang kian menumpuk diantara masyarakat. Begitu banyak masalah dengan gejolak tipuan dan fitnah yang tiada henti, yang merusak hati dan memberikan dampak buruk pada generasi muda yang baru saja belajar untuk mengepakkan sayapnya dalam melayari hidup yang keras dalam persaingan nafsu yang ingin  menguasai dunia ini.

Alhamdulillah ... mudah2an kegersangan duniawi ini menjadi sedikit tenang dan nyaman dengan hembusan kemuliaan bulan yang suci ini yaitu Ramadhan yang kian dekat menghampiri kita di tahun yang penuh kisruh ini. Ramadhan, dimana perintah Puasa diberikan kepada setiap hamba yang beriman, merupakan penyejuk jiwa dalam rangka membersihkan hati dan diri dari nafsu dunia yang kian kuat mengekang diri setiap hamba yang membiarkan dirinya larut dengan hiruk pikuk kehidupan yang seolah olah lebih penting daripada kehidupan akhirat.

Puasa yang merupakan kewajiban bagi kita untuk dilaksanakan dibulan penuh rahmat ini, sesungguhnya mengajarkan manusia untuk lebih bersabar dalam menjalani kehidupan ini. Karena selain menahan lapar dan haus, Puasa juga mengajarkan manusia untuk bersabar dalam mengekang hawa nafsunya.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al Baqarah 2 : 185)

Meskipun Puasa yang diwajibkan dibulan Ramadhan ini hanya dijalankan selama kurang lebih sebulan saja, namun berkah yang diberikan Allah kepada manusia yang menjalankan ibadah Puasa ini tidak dapat dinilai, karena begitu banyak kebaikan yang diberikan Allah kepada ummat yang melaksanakannya.
Bahkan perintah puasa yang diberikan Allah melalui firmanNya dalam Al Qur'an dimulai dengan kata kata penuh Rahman agar manusia melaksanakan puasa itu dengan taat.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah 2 : 183)

Puasa merupakan berkah yang Allah berikan kepada siapa saja yang mau patuh dan ta'at atas perintahNya, demi kepentingan manusia itu sendiri, yaitu untuk menjadi manusia yang bertakwa.

“Diriwayatkan dari Sahl bin Saad ra katanya : Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya” (Bukhari-Muslim)

Puasa membuat manusia menjadi lebih tenang dan sabar dalam menjalani kehidupan, sehingga tidak dikuasai oleh emosi dan keegoan diri yang selama ini mengungkung manusia dalam keindividualan yang tak mau tahu dengan kesusahan orang lain. Kesibukan dalam memikirkan diri sendiri ini menyebabkan kita menjadi kurang peka terhadap penderitaan orang lain serta kadang kadang membuat kesombongan diri muncul kepermukaan karena terlena oleh nikmat hidup yang dijalani selama ini, sehingga terlupa bahwa kehidupan didunia ini hanyalah sementara saja.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya : Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa” (Bukhari-Muslim)

Puasa membuat kita mampu menjaga lidah agar tidak menyakiti saudara muslim kita lainnya, karena tentu saja kita tidak mau puasa kita menjadi sia sia saja, karena hanya memperoleh rasa lapar dan haus saja.  Karena itu jika kita berpuasa, tapi kita berkata dusta atau menyakiti orang lain, maka sia-sialah puasa kita.

“Dari Abu Hurairah ra : katanya Rasulullahshalallahu 'alaihi wasallam berabda : “Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat jahat (padahal dia puasa), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum” (Bukhari)

Bahkan lailatur Qadar hanya terjadi dibulan Ramadhan saja, dimana Rasulullah memberikan petunjuk waktu malam Lailatul Qadar itu terjadi 7 hari malam terakhir Ramadhan atau dimalam 27.

Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.”  (Muttafaq Alaihi)
Dari Muawiyah Ibnu Abu Sufyan ra bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang lailatul qadar : “Malam dua puluh tujuh.” (Abu Daud)

Dan Ramdhan merupakan bulan yang memberikan kesempatan kepada orang orang yang beriman untuk mengumpulkan pahala sebanyak banyaknya dengan ibadah sunnah yang hanya boleh dilakukan dibulan Ramadhan saja, seperti shalat Tarawih dan berdo'a diwaktu malam Lailatur Qadar. Selain itu Allah menyempurnakan kesucian Ramadhan dengan menurunkan Al Qur'an kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pada 17 Ramadhan.

Dari ‘Aisyah ra bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda : “bacalah : Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa' fu 'anni yang artinya Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku.” (Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud).

Nabi biasa melakukan shalat sunnat malam (Tarawih) pada bulan Ramadhan : Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari)

Manfaat Shaum Ramadhan


Selama sebulan puasa selama Ramadhan, umat Islam jalani runititas sahur, menahan diri dari makan, minum & seks, serta amalan ibadah. Penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Subhanallah, puasa Ramadhan terbukti bermanfaat untuk membentuk struktur otak baru dan merelaksasi sistem saraf. Otak merekam kegiatan yang dilakukan secara simultan. Begitu juga dengan aktivitas puasa. Selama satu bulan, tubuh diajak menjalani rutinitas sahur, menahan diri dari makan, minum, dan seks, kemudian berbuka di petang hari serta menjalankan ibadah Ramadan lainnya.

Berpuasa menjadi bagian dari perintah agama. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak. Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik. Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).

Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

Contohnya, kata dia, otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Ketika tidur, biasanya orang bermimpi. Kenapa? Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Quran, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif menghadapi permasalahan,” katanya.

Luqman Al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah (kebijaksanaan), dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah.”

Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap. Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya sebagai pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan ‘dimakan’ oleh sel-sel neuroglial ini. Fisikawan Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak ketimbang orang kebanyakan.

Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Taufik mengatakan bahwa puasa adalah salah satu bentuk tazkiyatun nafs (menumbuhkan nafsu) dan tarbiyatun iradah (mendidik kehendak). Karena itu, sejak niat puasa, perilaku selama berpuasa dan ritual-ritualnya berada dalam konteks memperbaiki nafsu, menumbuhkan, kemudian mengelola kemauan-kemauan manusia.

sumber: Voice of Islam

Selasa, 09 Agustus 2011

Membedakan Bid'ah dan Kebiasaan


saat ini makin bermunculan segolongan manusia yg dengan mudah-nya menilai sesuatu secara spontan dan instan. tanpa melihat lebih dalam, mereka mudah sekali menilai dan menetapkan ijtihad pribadi di kalangan manusia yg terkesan nyeleneh. karena mudahnya berijtihad maka tidak heran golongan manusia ini akan dengan mudah-nya memvonis golongan lain yg tidak sefaham dengannya. Mungkin tujuan mereka berijtihad dan berfatwa itu adalah baik, demi maslahat dan kehati-hatian. namun apabila hal ini dilakukan tanpa ilmu yg memadai, tanpa bermusyawarah dengan orang2 yg kompeten, dan sembrono (di depan umum) maka yg terjadi adalah syubhaat atau kerancuan. Bahkan bisa juga memicu ketidakrukunan dan suuzhon. Hal2 sepele ini tidak memberi manfaat dan keberkahan, melainkan dosa.

Kriteria Bid’ah.
Menurut Imam Asy-Syatibi dalam I’tishom, bid’ah bukan saja penambahan terhadap syariat/kententuan dalam agama, khususnya yang berkaitan dengan ibadah mahdhoh (ibadah murni), tetapi juga pengurangan dan modifikasi terhadap perkara ibadah mahdhoh tersebut. Bahkan menurutnya, orang yang mengerjakan bid’ah, secara tidak sadar, orang itu telah jatuh dalam kekufuran. Sebagaimana dalil berikut:

“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah: shalatnya, shodaqohnya, hajinya, umrahnya, jihadnya, amalan wajib-unya, dan amalan sunnahnya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung adonan (HR. Ibnu Maajah)”
“Allah menolak untuk menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya. (HR.Ibnu Maajah)”

Imam Muhammad Abdurrohman Al-Mubarokfuri (salah satu ahli hadits asal India), yang menyusun kitab syarah Sunan at-Tirmidzi, menerangkan lebih gamblang lagi bahwa bid’ah adalah suatu jalan di dalam agama yang dibuat-buat tanpa dalil, yang menyerupai syariat agama, yang diyakini bahwa hal tersebut lebih afdhol. Yakni semua perbuatan yang menyerupai ibadah namun tidak ada dalilnya atau dasar dalilnya dari Al Quran, Al Hadits, maupun fatwa Khulafaur-Rosyidiin. Biasanya orang yang mengerjakannya bertujuan supaya lebih khusu’ atau lebih mantap. Pengertian bid’ah ini terbatas pada bentuk ibadah mahdhoh (ibadah murni) semisal sholat, wudhu, adzan, puasa, haji, dan lain-lain. Adapun bid’ah idhofiyyah merupakan bid’ah yg tercipta dari dua sisi. Satu sisi mempunyai kebaikan, dimana satu sisi yg lain mempunyai ibadah ritual tertentu yg telah ditetapkan. Semisal yasinan dan tahlilan jika ada seseorang yg meninggal. Bagi sebagian pengikut “madzhaab” hal seperti ini diyakini sebagai suatu kewajiban dan keharusan. Maka tidak heran jika hal-hal semacam ini dinilai sebagai syariat baru.

Adapun kebiasaan, tidak harus selalu dikaitkan dengan bid’ah. hanya dengan alasan: “kan nggak ada hadits-nya”, maka kebiasaan- kebiasaan tertentu bisa dianggap bid’ah?. tidak juga, karena seharusnya kita mengerti bahwa suatu kebiasaan yg tidak ada hubungannya dengan penambahan, pengurangan, dan pemodifikasian terhadap suatu ibadah mahdhoh, jelas bukan bid’ah. kebiasaan yg dilakukan seseorang padahal itu bukanlah kebiasaan Rasulullah SAW, juga tidak serta merta jadi suatu bentuk bid’ah.

Fenomena kebiasaan para jamaah ber-maaf2an di awal Ramadhan atau di akhir Ramadhan, atau kebiasaan mudik ke kampung halaman utk silaturrahim kepada sanak famili. hal ini tidak bisa serta merta dibilang sebagai bid’ah (pembaharuan dlm agama). karena hal ini didasari bukan karena keyakinan bahwa hal tersebut adalah wajib dikerjakan, melainkan didasari karena targhib atau istihbaab (kesenangan) saja. dalam kata lain, hal tersebut biasanya dilakukan atas dasar memanfaatkan kesempatan.

jika dengan mudah-nya kebiasaan- kebiasaan baik itu dikatakan bid’ah, mengapa kebiasaan Bilal bin Rabah melakukan sholat sunnah 2 rakaat setelah berwudhu tidak dikatakan bid’ah?. padahal Rasulpun tahu hal ini setelah Mi’raj dan beliau tidak membid’ahkan kebiasaan unik sahabat Bilal?
Mengapa kebiasaan imam Bukhori yg selalu melakukan sholat sunnah 2 rakaat sebelum memasukkan sebuah hadits ke dalam kitabnya, tidak dianggap bid’ah? padahal hal ini tidak pernah dicontohkan Rosul? apakah imam Bukhori tidak mengerti batas- batas bid’ah?

Sobat, banyak kebiasaan baik dan ibadah2 sunnah tathowwu (tambahan) yg bisa dikerjakan walaupun Rosul tidak pernah melakukan. contoh-nya anda beramar makruf di facebook, milis, atau dunia maya. siapa bilang hal ini diajarkan oleh Rasul? siapa bilang hal ini tidak berpahala?

Jangan lupa, dalam hadits yg diriwayatkan oleh Aisyah RA menerangkan bahwa Nabiyulloh senang dengan kebiasaan- kebiasaan kecil namun rutin/terbiasa dikerjakan. dan kebiasaan- kebiasaan baik sebagai tambahan pahala ini adalah umum (ijma), tidak spesifik diterangkan Nabi saw harus yg seperti ini ini ini, atau begini begini begini.

Seperti saling meminta maaf (halal bi halal), Nabiyulloh sendiri tidak memperinci bagaimana prakteknya. karena itu bukanlah ibadah mahdhoh semisal sholat, atau haji ke baitulloh. Tapi yg jelas, saling memaafkan itu adalah kelakuan/kebiasaan orang iman. Sebagaimana tercermin dari percakapan antara Raja Heraclius dan Abu Sufyan (sebelum masuk islam):

Dia (Raja Hiroqla/Heraclius/Hercules) bertanya lagi:
“Apa yang diperintahkannya kepada kalian? ”Aku (Abu Sufyan) jawab: “Dia menyuruh kami; ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian (berhala). Dia (Muhammad saw) juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim”. (HR Bukhori)

Maka sekali lagi jangan terpengaruh dengan orang-orang gemar melontarkan hal-hal bid’ah, namun hakikatnya ia sendiri belum mengerti apa yg mereka katakan.
nah yg nama-nya biasa/rutin itu bisa setiap saat, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun… adapun kebiaaan/kerutinan tidak disebutkan secara saklek (ma’nawi).
dalam kaidah fiqih pun dijelaskan oleh imam Ahmad bin Hanbal:
HUKUM ASAL KEBIASAAN ADALAH MUBAH
والأصل في عاداتنا اﻹباحة حتى يجيء صارف اﻹباحة
Hukum asal adat (kebiasaan) adalah ibahah (mubah), sampai datang (sesuatu) yang memalingkan ibahah itu.
HUKUM ASAL IBADAH MAHDHOH/SYARIAT ADALAH HARAM
وليس مشروعا من الأمور غير الذي في شرعنا مذكور
Tidaklah suatu perkara disyari’atkan selain yang telah disebutkan dalam syari’at (islam)
So, mudah2an kita semua bisa membedakan mana bid’ah, mana kebiasaan baik.
demikian, smg barokah.
.

Rabu, 01 Juni 2011

Senyum Ananda


Aku Maya, kini usiaku 36 tahun, bukan usia yang lagi muda. Mas andre suami yang begitu menyayangiku. Diusianya yang 40 tahun dia tampak lebih gagah dengan jabatan sebagai senior manager di perusahaan pertambangan terkemuka memberikan kami kehidupan yang mapan. Apalagi, aku juga bekerja sebagai Marketing Manajer sebuah Bank pemerintah. Namun kebahagiaan kami belum lengkap karena diusia pernikahan yang ke 12 ini aku juga belum dikarunia seorang anak. Berbagai upaya sudah kami lakukan, dari therapy ke dokter ahli sampai pengobatan alternative. Kami sudah pasrah namun kekhawatiranku selalu ada. Apalagi ibu mertuaku selalu menanyakan kehadiran cucunya. Maklum mas Andre anak laki satu-satunya dari 4 bersaudara yang semua wanita. Suamiku memang selalu menunjukkan rasa sayangnya. Dia selalu membesarkan hatiku. “Suatu saat dik, Allah pasti memberi kita anak, kita berdoa saja” katanya. Aku tersenyum namun rasa malu tidak bisa kuhindari, apakah aku mandul, apakah aku tidak bisa memberikan keturunan. Aku takut kehilangan masku. Aku tidak mau dihari tuaku hidup sendirian.
Kami menjalani kehidupan seperti hari-hari biasanya. Sampai suatu saat dihari minggu ketika kami baru saja berolahraga datang sahabatku Ria yang tampak begitu tergesa-gesa. Ada seorang bayi mungil digendongannya mungkin usianya baru satu minggu. “May, aku minta tolong ya, kamu sahabatku tolong jaga anak ini” kata Ria. Aku terheran dan semakin bingung. “Kamu duduk dulu deh ceritakan pada kami” tambahku. Ria pun mulai cerita, saat ini dia harus pergi karena keluarganya kini telah mengusirnya akibat hubungan gelapnya dengan steve lelaki kelahiran Kanada. Orang tua Ria keturunan darah biru yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Ria harus pergi dan tujuannya hanya satu yaitu tempat pacarnya kini berada. Yah dia harus terbang ke Kanada pagi ini. “Tolong jaga dia May, aku tidak tahu harus kemana lagi. aku menyayanginya” kata Ria. “Suatu saat aku akan kembali untuk dia May”, tambahnya. Aku menatap mas Andre diapun tersenyum seolah bisa membaca fikiranku. “Baik Ria, aku akan jaga anak ini, siapa namanya? Tanyaku, “Ananda Ferdiansyah, di akta kelahirannya aku tulis begitu” jawab Ria. “Kapan kau kembali’” tanyaku lagi. “aku tidak tahu May, Steve telah kembali terlebih dahulu ke Kanada karena masa tugasnya telah berakhir dan dia harus kembali, jadi terpaksa aku berangkat sendirian. Oke ya May, Pliss”, kataya memelas. Aku pun menganggukan kepala. Kembali Ria sumringah, yah Ria sahabatku sejak SMP sampai SMA kami selalu bersama sampai kuliah yang memisahkan kami. Aku kuliah di Jogja sedangkan Ria masih di Jakarta. “May, ini baju nanda dan botol susunya”, Ria membuyarkan lamunanku. Ria kembali berkata,“maaf may aku belum bisa kasih apa-apa ke nanda tapi pasti aku ganti may”, kata Ria. Ria beralih memandang anaknya. “Nanda mama pergi dulu yah”, Kata Ria kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang. Aku memahami sekali, Ibu siapa yang tega melepas anak yang telah dikandung 9 bulan diperutnya.
Kini hari-hari ku tidak lagi sepi, Nanda telah melengkapi keinginanku memiliki anak. Walaupun aku sadar dia bukan anak kandungku. Sudah tugasku menjaga anak dari sahabatku walaupun aku juga meminta bantuan seorang baby sitter mbak Nie aku memanggilnya. Secara rutin aku selalu monitor perkembangannya. Nanda memang lucu sekali wajahnya perpaduan Padang dan kanada menjadikannya anak yang rupawan, kulitnya yang putih kemerahan membuat aku gemas sekali. Setiap pagi sebelum berangkat pasti aku peluk dan kuciumi. suamiku pun tak mau kalah, rebutan untuk menggendongnya menjadi kesenangan kami tersendiri. Nanda memang bagaikan malaikat dan cahaya bagi kami. Lambat laun kami semakin sayang. Dia sudah seperti anak kami sendiri. Pertumbuhan nanda tidak terasa semakin terlihat. Tubuhnya gemuk dan lucu, sehat sekali dia. Aku sekarang punya kesibukan baru menjadi seorang ibu. Hampir tiap hari aku buka majalah untuk melihat mode baju anak dan mainan keluaran baru. Rasanya bahagia sekali melihat dia tersenyum sambil memperlihatkan baju atau mainan yang kubelikan.
Kesibukan di kantor membuatku melupakan sejenak Nanda namun bila waktu menjelang berakhir tak sabar aku ingin segera tiba dirumah. Yah setiap sore Nanda telah rapi. Di atas kereta bayi bermain sambil makan sepiring cereal yang disuapi mbak Nie. Nanda diusianya yang 6 bulan tampak semakin sehat. Nanda pasti tertawa kalau klakson mobilku berbunyi perasaan suka cita terlihat jelas. Nanda tertawa sambil mengajak mbaknya segera ke mobilku. Nanda sudah bisa memanggil mama, yah aku kini mamanya. Setiap malam setelah kami bermain Nanda akan tertidur pulas, aku dan mas Andre selalu memandangnya dengan penuh kasih sayang. Hingga akupun tertidur pulas di sampingnya.
Waktu terus berlalu tanpa terasa kini 5 tahun sudah Nanda bersama kami. Nanda kini telah masuk sekolah TK. Tubuhnya lebih besar dibandingkan teman sebaya. Nanda juga cerdas sekali. Setiap hari sebelum kami berangkat kerja Nanda sudah bangun bahkan membangunkan kami untuk sholat shubuh bersama. Nanda memang sekolah di TKIT As salam dekat komplek rumah kami. Setelah mandi sambil sarapan kami selalu bercanda. Selalu saja nanda bertingkah polah lucu yang membuat kami tertawa. “Mama sayang ngak sama Nanda” Tanya Nanda, aku pun tersenyum. Loh kok Nanda Tanya begitu” kataku. “Ngak Cuma mau nanya ajah”.katanya. Sini mama peluk” Nanda pun memelukku dengan eratnya mas Andre pun tersenyum melihat kami.
Suatu hari ketika baru saja aku pulang, mbak Nie bilang kalau tadi ada tamu. Namanya Ria dia ingin bertemu Nanda. Deg! hatiku pun berdegup kencang, yah Ria, Ibu kandung nanda sudah datang, apakah dia datang untuk mengambil anaknya?. Aku semalaman tak bisa tidur, aku takut kehilangan Nanda. 5 tahun cukup sudah membuat ikatan batin kami. Walau nanda bukan anakku tapi aku yang merawatnya dan menyaksikan perkembangannya detik demi detik.
Esoknya Ria datang disampingnya ada seorang pria bule. Ditanganya ada mobil remote control, “pasti untuk nanda”, fikirku. “Maya!” kata Ria memecahkan lamunanku. “Bagaimana nanda?” Tanyanya lagi. “Oh ya, sehat-sehat dia”, jawabku gugup. Dia sedang tidur jangan diganggu dulu. “Aku ingin melihatnya”, kata Ria. “Yah, sebentar lagi pasti dia bangun”, kataku. Belum lagi aku menutup mulutku aku mendengar suara nanda memanggil, “mama… mama.. itu mama yah? Sudah pulang ya ma?”, suara lembut Nanda yang sering terucap kini terasa berbeda. “Ya sayang sini deh!” sahutku. Nanda keluar dari kamarnya. Sambil mengucap-ucap matanya yang masih sipit karena tidurnya. “Nanda sini deh”, kata suamiku, aku hanya diam dan menunduk. Berjuta gejolak dibatinku. Aku tak kuat menerima ini terlalu cepat. Tapi aku juga tak boleh egois. “Nanda!,” kataku, “ini Mama Ria dan Papa steve”, aku membiasakan memanggil itu. “Nanda,” kata Ria. “Sini deh!, mama Ria punya mainan buat kamu”. Nanda bukan menghampiri malah berlari kebelakangku. “Ngak mau!” . katanya. “Yah!, mungkin belum terbiasa ri”, kataku, nanda malah mengajakku nonton TV. Sambil matanya menatap tajam Ria dan Steve. Aku tau dia ingin menghindar darinya. Akupun menuntun ke ruang keluarga dan mulai menyalakan televisi aku terdiam fikiranku menerawang entah kemana.
Malam kini telah larut Ria dan Steve sudah kembali setelah berjanji besok akan kembali lagi. Nanda telah tertidur. Aku tak kuasa tangis menatap wajahnya. Yah wajah yang setiap hari aku pandangi. Aku memeluk erat suamiku, aku berbisik takut nanda bangun, “Aku tak ingin kehilangan dia mas, Aku rela kehilang segalanya mas asal dia masih bersamaku”. Suamikupun bisa memahaminya dia hanya memelukku erat. Aku tahu pasti perasaan mas Andre tidak berbeda denganku. Hari ini aku sengaja cuti begitu pula suamiku. Aku takut Nanda diambil paksa oleh Ibunya. Tak lama kemudian Ria dan Steve tiba dirumah sesuai yang dijanjikannya di tangannya masih masih memegang mobil remote yang belum sempat diberikan ke Nanda. “May boleh aku bicara dengannya”, Tanyanya. “Yah.. yah.. boleh boleh donk kamu kan mamanya”, jawabku gugup. “Nanda sini deh!”, panggilku nanda pun menghampiri. “Kamu beri salam mama Ria dan papa Steve”. Nanda pun memberi salam dan mengecup tangannya. “Nanda“, sapa Ria. “Mama Ria ingin bicara boleh?” Nandapun hanya terdiam. “Kami ini adalah orang tuamu, mama dan papamu”, Nanda memandang kami seolah meminta kepastian. Aku hanya tertunduk, Ria pun meneruskan kalimatnya. “Mama ria menitipkan kamu ke mama Maya dan sekarang kita telah bersama, kami akan mengajak kamu tinggal bersama di kanada, oke”. Bagai petir menyambar jantungku mendengar kata-kata Ria. Yah berarti aku harus bebar-benar berpisah dengannya. Nanda menjerit sambil teriak, “Tidak mau!!.. tidak mau!!.. nanda ingin sama mama, Nanda tidak mau pergi”,. Aku memeluknya erat untuk menenangkan Nanda. Ria kembali terdiam. Ria faham ini sangat berat bagi Nanda tapi Ria sudah bertekad untuk mengajak nanda walau aku telah memohonnya untuk tidak membawa nanda tapi Ria bersikeras “dia Anakku May!, setiap malam aku memimpikan dia, aku harus membawanya. Terima kasih kamu telah merawatnya, aku telah siapkan uang pengganti kau bisa menerima uang ini”, kata ria dengan memelas. Aku menepisnya, “bagiku uang tidak seberapa Ria, tapi yang mahal adalah kasih sayang kami itu yang tidak bisa kamu beli”, kataku. “Tapi aku harus membawanya may, bagaimanapun caranya”, Ria menutup teleponnya.
Aku pun berdiskusi dengan suami, yah aku harus melepasnya dan membiarkan orang tua kandungnya merawatnya. Aku memanggil nanda dan mencoba untuk memberikan pengertian walau berat aku berkata. Tanpa terasa air mataku jatuh Nanda pun menangis lagi sambil berlari kekamarnya dan berteriak, “tidak mau … mama jahat, aku tidak mau!!.. aku menghampiri nanda ke kamarnya dia tidur sambil memeluk bantalnya kesayangannya aku memeluknya erat kami pun menangis.
Hari yang dijanjikan Ria tiba, yah dia menjanjikan kepada ku satu minggu agar bisa membawa nanda. Nanda telah rapi matanya tampak habis menangis usianya baru 5 tahun. Tapi dia harus berpisah dengan orang yang selama ini mendampingi dan menyayanginya. Nanda harus berpisah dengan kami. “Nanda ingat mama dan papa yah,” kataku. “Jangan lupa sholat”, kata suami ku. Nanda menahan tangisnya aku bilang padanya anak laki pantang menangis Nanda harus tegar. Aku ingatkan kembali janji kami bahwa suatu saat pasti kita akan bertemu kembali. Ria memegang tangan Nanda dan menciumnya Nanda hanya terdiam. Dia memandangku matanya masih tersisa air mata. Aku memeluk suami tak kuasa melihatnya. “Mama Nanda pergi yah” pamit Nanda sambil memelukku. Aku melihatnya kini air mata nya jatuh kepipinya yang putih bersih. Aku menganggukkan kepala. Dituntunnya Nanda menuju keluar pekaranganku. Sebelum masuk mobil Nanda kembali melihatku. Nanda tersenyum seolah ingin memberiku kekuatan walau matanya tidak bisa membohonginya. Nanda masuk kemobil dan kembali melihatkan sambil tersenyum.. yah Senyum Ananda yang terbaik telah diberikan 5 tahun ini. Senyum yang telah menghapus sepiku. Kini telah pergi tinggal sepi kembali yang pasti akan kurasakan semakin sepi .. sunyi dan senyap.
Semenjak kepergian Nanda rumah ini terasa suram. Matahari pagi tak lagi kurasakan ramah menyapa, Bunga-bunga sudah kehilangan warna indahnya. Burung-burungpun terasa sudah tidak bernyanyi merdu. Yang ada hanya kemuraman. Yah… setelah kepergiannya semangat hidupku kini lunglai. Aku lebih banyak melamun memikirkan Nanda. Betapa dahsyat kasih sayang yang Allah tiupkan kepada hambanya. Berjuta pertanyaan kerap muncul dalam fikiranku, sedang apakah dia?, apakah dia bahagia? apakah dia rindu Mamanya ini?. Nanda yang setiap pagi memanggilku untuk sekedar memeluk. Andai waktu berputar lain. Andaikan pula Ria melupakan anaknya. Ohh … Malaikat kecilku aku rindu padamu. Kerinduan yang kuat menyesakkan dadaku. Aku tidak pernah menyesali pertemuan Nandaku yang pernah dititipkan 5 tahun lalu. Tapi kerinduan seorang Ibu yang telah membesarkannya. Memeluk dan mencium setiap saat. Saat terindah yang tak akan bisa aku lewatkan tanpanya.
Kerinduan itu aku lepaskan untuk melihat ke kamarnya. Memang sengaja kamar ini tidak aku rubah. Masih terpampang photo di dinding ketika usianya baru 2 tahun. Photo Nanda ketika berulang tahun. Senyumnya, tatapan matanya membuatku semakin rindu. “Nanda! Mama ingin memelukmu, nak!”. Tuhan berikan aku waktu lagi untuk bertemu dengannya. Biarkan hari hari seperti yang pernah kami alami dapat kembali menghampiri.Setelah aku puas memandang seisi kamarnya, biasanya aku mulai membuka laci lemari Nanda. Aku buka lembaran gambar-gambar yang pernah dibuatnya. Ada satu gambar yang aku suka. Gambar ketika Nanda di Play Group. “Ini Mama.. ini Nanda .. dan ini Papa .. kita tetap bersama ya ma selama-lamanya“ kata Nanda kala itu. Sesak nafasku kalau mengingat hal itu. Air mataku kembali jatuh. Entah sudah berapa banyak aku bersimbah air mata ini . “Tuhan apakah aku kuat menerima ujianMu. Berikan aku kekuatan agar dapat kembali bertemu padanya”, hanya doa sebagai penguat dikala kerinduan ini sedemikian membuncah dalam dada.
Mas Andre sudah seminggu menjalani pelatihan di Yogya. Mbak Nie masih tetap aku pekerjakan. Tapi kini beralih tugas merapikan rumah terutama kamar Nanda. “Kamu bersihkan dari debu ya Nie.. siapa tau Nanda akan kembali lagi,” kataku. Mbak Nie hanya terdiam. Dia pun merasakan kesedihan karena Mbak Nie turut merawat Nanda semenjak bayi. Hmm.. Nandaku sayang biasanya malam ini ada dikamar kami, bercanda..bercerita.. dan akhirnya tertidur. Sampai akhirnya mas Andre menggendongnya kekamar. 8 bulan sudah berlalu, belum juga aku bisa melupakannya. Mas Andre sudah seringkali menasehatiku untuk melupakannya, akupun sudah berusaha namun bayangan Nanda tetap ada. Dia tak mau pergi dari hati dan ingatanku. Mas Andre berjanji akhir tahun nanti kami akan cuti bersama dan akan berkunjung kerumah Steve di Kanada. Aku sadar biaya perjalanan pasti sangat besar belum lagi Toronto adalah kota tujuan kami. Kota yang sangat besar dan modern. Pasti sulit mencari orang disana.
Akhirnya waktu itu pun datang juga. Setelah melakukan persiapan semua, kamipun akhirnya berangkat menuju Toronto Kanada, perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari 2 x 24 jam. Perjalanan melintasi lautan dan benua serta transit di berbagai kota negara berbeda seperti Kuala Lumpur, Amman, Amsterdam dan Montreal. Aku membayangkan perjalanan Nanda yang panjang dengan orang yang masih asing baginya. Pasti betapa menyiksa dia. Tapi aku buang jauh-jauh perasaan itu mungkin saja dia bahagia karena orang tuanya begitu perhatian pada Nanda. Tepat pukul 23.00 pesawat kami mendarat di bandara Internasional Toronto. Kami disambut oleh Mr James perwakilan dari perusahaan Pertambangan tempat Mas Andre bekerja yang kebetulan berpusat di Kanada. Kami diantar ke sebuah hotel bertingkat 8 di tengah kota. Kami menginap di “Venture Inn Toronto Yorkville”. Hotel ini terletak di 89 Avenue Road, Toronto. Dari sini kami dapat melihat gedung-gedung indah yang menjadi landmark Kota Toronto. Namun bukan keindahan itu yang aku nikmati. Semua tertutupi oleh keinginanku untuk segera bertemu Nanda.
Esoknya setelah kami beristirahat. Mr. james kembali mengantar kami sesuai alamat yang diberikan oleh Ria. Setelah mencari dan bertanya kesana kemari. Tiba kami dialamat yang kami cari. Namun betapa lemasnya serasa kaki ini tak lagi bertulang. Perjalanan jauh yang sia-sia karena Ria telah pindah entah kemana. Sudah 2 bulan yang lalu mereka pindah flat. Pemiliknya juga tidak tahu pindah kemana, karena mereka begitu tergesa-gesa.. Aku semakin khawatir keadaan Nanda. “Mas kita harus mencarinya..” pintaku pada Mas Andre. “Yah besok kita cari lagi sekarang sudah menjelang malam”. Kami sepakat untuk mencari kembali Nanda besok. Sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata. Terbayang wajah Nanda yang entah dimana kini keberadaannya. Memang tidak mudah mencari seseorang di kota sebesar ini. Kami sudah menghubungi konsulat RI di Toronto namun hasilnya sia-sia.. Tidak hanya waktu cuti yang akan berakhir namun persediaan dana juga semakin menipis. Setelah 2 minggu kami berusaha dengan terpaksa harus kembali ke Indonesi
Sesampainya di Indonesia, yang aku lakukan adalah berusaha dan terus berusaha melupakan Nanda. Mas Andre menyarankan agar kamar Nanda dirapikan saja simpan barang-barangnya dalam gudang. Jangan mas!! aku ingin tetap seperti ini,” aku berkeras agar tidak berubah. Namun Mas Andre punya pandangan berbeda. “Maya, Kita sayang Nanda justru itu kita simpan yah barang ini. Dan biar kamu juga ngak terus-terusan seperti ini. Aku juga sedih. Tapi hidup kita harus terus berjalan ada atau tidak ada Nanda,” Mas Andre berusaha menjelaskan. 1 tahun sudah berlalu aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhku. Mungkin karena setahun ini aku malas berolah raga, makanpun sekenanya. Tubuhku semakin kurus dan aku rasakan gejala penyakit pada bagian perutku. Sampai suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerangku. Aku dibawa Mas Andre ke rumah sakit. Setelah melalukan diagnose dan check up, dokter mendiagnosa penyakit yang selama ini aku takutkan. Aku menderita kanker rahim. Aku pasrah menerimanya dan siap hidup dengan penyakit yang aku derita bahkan kalaupun Allah memanggilku aku rela apalagi semenjak Nanda pergi rasanya berkurang semangat hidupku. Mas Andre terus mendampingiku dan membesarkan hatiku. “Sabar ya sayang, kamu pasti sembuh.. pasti!” Mas Andre membesarkan hatiku walau aku tau dia juga begitu terpukul atas penyakitku ini.
Waktu terus bergulir, sampai suatu kali, ketika jam di ruang tamu berdentang pukul 1 dini hari. Tiba-tiba telepon rumahku berbunyi. Mas Andre bangun dari tidurnya dan mengangkat telepon. Aku terbangun dan masih terbaring ditempat tidur, aku berusaha menajamkan pendengaranku. “Ada apa.. siapa yang malam malam telepon rumah kami..?” fikiranku menerawang banyak sangka. “Ya, oh kamu Ria..” terdengar Mas Andre berbicara. “Ria?..” aku bangkit dan merebut telepon yang Mas Andre pegang. “Ria kamu baik baik saja? gimana Nanda..?” tanyaku. “Ya May.. Nanda baik-baik saja..” jawab Ria. Aku jelaskan bahwa kami baru saja dari Kanada untuk mencari Nanda sesuai alamat yang diberikan Ria. Ria minta maaf, mereka terpaksa harus pindah flat karena sudah tidak sanggup membayar flat yang selama ini ia tempati. Steve telah di PHK setelah berkelahi dengan atasannya. Ternyata itulah alasannya kenapa dia kembali ke Kanada, jadi bukan karena habis masa kerjanya. Ria kembali menjelaskan,” dia kini frustasi.. setiap malam dia berkumpul dengan kawan-kawan lamanya dan pulang selalu dalam keadaan Mabuk. Aku tidak bisa mengadu kemana-mana bahkan kepada orang tua Steve.
“Terus bagaimana dengan Nanda, Ria” tak sabar aku bertanya pada Ria.
Ria memastikan kalau Nanda baik-baik saja. Ria memberikan alamatnya yang baru dan no kontaknya. Belum sempat aku berbicara telepon telah ditutup dan ketika aku hubungi kembali nomor tidak aktif yang aku dapatkan. Semakin berkecamuk fikiranku memikirkannya. Aku kini tidak bekerja. Mas Andre lebih meminta aku beristirahat saja dirumah karena penyakitku. Lagi pula aku dikantor sudah sulit berkonsentrasi maklum pekerjaanku membutuhkan ketelitian. Aku pun mengambil pensiun dini. Aku pasrah menerima penyakitku ini. Seperti biasa penyakit Kanker yang membuat korban tinggal menghitung waktu kapan saat ajal menjemput. Aku pasrah kepada Allah, Aku telah siap menerima keadaan bahkan yang terburuk sekalipun. Malah aku berfikir semakin cepat aku meninggal semakin baik karena Mas Andre pasti akan cepat mendapatkan penggantiku dan akan memberikan cucu untuk ibunya. Aku yakin Allah tidak memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya.
“Aku tidak boleh menyerah pada penyakitku ini” suatu kali aku menguatkan diri. Aku berfikir bahwa Nanda harus aku yakini dalam keadaan baik dan bahagia. Kalaupun kami tidak lagi bertemu, aku rela dan ikhlas asalkan dia bahagia. Ya Allah..Tuhan rabb yang maha Pemberi, beri aku waktu sesaat saja sampai aku dipertemukannya. Ria dimana kau sekarang berada. Kenapa kau tidak menghubungi kami kembali. Setiap waktu aku selalu menunggu Ria menelepon atau aku yang berusaha menghubunginya, namun setiap kali aku coba selalu tidak aktif. Sampai satu hari aku berhasil menghubunginya dan dijawab oleh Ria. Namun yang aku dengar suara isak tangisnya. “May .. maafkan aku yah.. aku telah membawa Nanda darimu namun aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan”. Ria pun mulai bercerita kalau Steve kini telah berbeda perangainya Steve yang kini kasar. Ketahuan saja Ria menelepon maka tangannya akan menampar wajah wanita malang itu. Aku sangat khawatir pada keadaanya, terutama Nanda, “Ria tolong aku ingin bicara dengan Nanda.. plis aku mohon Ria”. Ria pun memberikan teleponnya ke Nanda. “Mama..” suara kecil yang aku rindukan terdengar dari jauh sana. “Nanda baik-baik saja?” Tanyaku. “Aku ingin pulang Ma.. aku takut disini Papa Steve Galak, aku dipukulnya. Mama Ria juga”. Gemetar aku mendengarnya.
“Nanda sabar yah !!.. Mama pasti jemput kamu”. Aku mencoba membesarkan hati Nanda.

Sekembali Mas Andre dari kantor aku langsung menyampaikan pembicaraan kami. Setelah berdiskusi dan mencari jalan keluar. Akhirnya dengan alasan berobat atas penyakitku ini, kami pun mendapatkan kesempatan kembali ke Kanada. Level jabatan Mas Andre sebagai senior manajer memungkinkan aku berobat ke Kanada di sebuah Rumah Sakit kanker terbesar “Princess Margaret Hospital” di Toronto. Aku berangkat ke Toronto dengan keyakinan bahwa kali ini aku pasti bertemu Nanda kecilku. Perjalanan panjang yang kembali aku lalui. Dengan menahan sakitku aku tetap berharap bisa tiba di Toronto dengan selamat. Akhirnya kembali aku menginjakkan kakiku di Toronto, Kanada. Yang pertama kali aku lakukan adalah ke Konsulat Jenderal RI di Jarvis Street, Toronto. Dengan didampingi pejabat dari Head Office Perusahaan suamiku, Mr. James, kami menemui seorang Staff konsulat, Pak Usman. Setelah kami menjelaskan Pak Usman bersedia membantu apalagi kami didampingi seorang Pejabat kawan Mas Andre. Untuk keamanan kami telah melaporkan kepada police di Toronto untungnya Police tersebut kawan baik Mr James. Kami menuju flat di Jhon Street. Kurang lebih 30 menit dari KJRI. Flat no. 75 di lantai 3 tujuan kami. Akhirnya kami tiba disana. Hatiku sangat cemas. Flat yang tertutup rapat, tampak suasana yang gelap dan suram di dalam sana. Akhirnya polisi mengetuk pintu dan menjelaskan kedatangannya. Dari dalam terdengar suara berat yang menjawab. Belum lagi pintu terbuka Ria menyeruak dari dalam. “Mayaaa..maafkan aku!” tangisnya. Tampak matanya yang lebam belum lagi tangannya yang penuh luka bakar. Polisi dengan sigap meringkus dan membawa Steve ke Kantor Polisi untuk diproses dengan tuduhan kekerasan dan penganiayaan.
Dengan cemas aku masuk ke dalam kamar dan kusaksikan tubuh kecil Nandaku sedang terbaring lemah. “Nanda!!, ini mama, nak” Nanda bangun dari tidurnya. “Mama .. “ suara Nanda gemetar. Wajahnya yang pucat dan kurus tampak berbeda sekali. Tapi tatapan mata itu tak dapat aku lupakan. Aku memeluknya erat dengan berurai air mata mengucap syukur karena telah aku temukan kembali malaikat kecilku. Sudah 2 bulan ini dia kena penyakit radang paru-paru. Aku tidak bisa membawa kedokter. Steve selalu melarangnya. Lagipula aku tidak punya uang. Ria tertunduk menjelaskan hal itu. Aku begitu marah. Tapi aku tahan. Aku harus segera membawa Nanda kerumah sakit. Aku pilih rumah sakit tempat yang sama denganku. Untungnya polisi telah menyiapkan ambulan dan langsung membawanya. “Mas Andre.. aku minta dirawat satu kamar ya dengan Nanda!! Pintaku. Mas Andre hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sebenarnya aku kasihan sekali pada Suamiku ini karena aku, dia harus susah seperti ini. Di ambulan aku pegang erat tangan Nanda. Senyumnya kini terlihat. Ria turut tersenyum. Dia mengatakan sejak Nanda dibawa dari rumah kami, tidak pernah dia melihat Nanda tersenyum. “Maya .. maafkan aku yah. Silahkan kau besarkan Nanda .. aku memang ibu kandungnya tapi aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan” kata Ria pelan. Nanda tersenyum kembali aku menatap Ria dengan penuh suka cita. Aku peluk Ria sambil mengucapkan terima kasih. Nandaku telah kembali dan akan aku lihat senyum itu sepanjang hari. Senyum yang akan menghangatkan pagi dan menebarkan warna indah dirumah kami. Senyum Ananda.
Setelah kembali ke Indonesia Ria langsung mengurus surat adopsi atas nama Nanda kepada kami. Setelah itu Ria pergi entah kemana. Steve di vonis hukuman 18 tahun penjara di pengadilan Toronto. Nanda kini telah pulih tubuhnya dan kembali sehat. Keceriaan semakin terlihat diwajahnya. Sedangkan aku kini telah sembuh setelah rahimku diangkat sehingga dipastikan aku tidak akan punya anak lagi. Sedangkan suamiku dia tetap menjadi orang terbaik bagi hidupku. 

By: Lukman Snada

Jumat, 25 Maret 2011

CINTA ITU BUTUH KESABARAN

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita...
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia...
Pernikahan kami sederhana namun meriah...

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu. Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci... Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.


Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku … “Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.


Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, ”Ada apa ayahi memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang di travel bag dan ayahi sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”,
jawabnya tegas.

”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”
, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.

Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“

Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”
, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^


Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^


Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^


Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”


Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

^_^_^_^_^_^_^^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^__^_^_^_^_^_^_^_^_^


Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?

Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..

Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
Aku harus sadar diri.

Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.

Sebelum ajal ini menjemputku.
Ayah.. aku kangen ayah..


Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..

Desi sangat berbeda denganmu,
ia tak pernah membersihkan telingaku,
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun,
kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda,
mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..

Bunda.. maafkan aku..
Bunda tidur tetap manis.
Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.

Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu,
aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?

Tunggulah Ayah disana Bunda..

Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

Oleh : Albimani, di Ruang Muslim